Sabtu, 20 Juni 2015

Long Live King Arturo Vidal!!

Pemain Juve yang paling saya cintai sepanjang masa adalah Alessandro Del Piero. Sedangkan saat ini, di atas kegemilangan Pogba, kejeniusan Pirlo, ketampanan Morata, saya justru paling memuja keganasan ARTURO VIDAL. 
Saat ini Vidal sedang menjalani turnamen Copa America bersama Chile. Saya melihat peluang Vidal bersama Chile dapat melangkah jauh di Copa America. Chile, bersama Argentina dan Uruguay menurut saya adalah peserta yang paling berpeluang menjuarai Copa America.
Melalui tulisan ini, semoga kemudian sore ini anda yang non juventini bisa berbuka puasa dengan semangkok kolak tanpa rasa heran mengapa Juventini bisa begitu mengagumi pria yang satu ini.

a Souvenir from J Stadium tour


Vidal, jauh dari kesan flamboyan atau mewah. Jika pada suatu kesempatan anda berjumpa dengan wanita yang menyukai permainannya, mungkin wanita itu sedang kehilangan kodratnya, atau penalarannya memang spesial.

Conte dan Buffon pernah berkata "jika aku akan berperang, maka dialah yang akan pertama kali kubawa". Julukan il Guerriero (the warrior) tidak diberikan secara main-main dan tanpa alasan.

Kemampuan teknis serangan Vidal juga di atas rata-rata, musim lalu ia banyak bermain sebagai trequartista untuk mengisi kekosongan stok trequartista murni di squad Juve. Trequartista yang dihadirkannya bukanlah trequartista seperti yang anda kenal, dia memainkan peran trequartista layaknya campuran seorang carilleros, mezzala, bahkan libero sekaligus. Ketika bermain di posisi terbaiknya, Vidal adalah gelandang box to box terbaik saat ini. Mari kita simak beberapa statistik berikut;

"player has no significat weaknesses" ha! -whoscored.com

silahkan cek di whoscored.com untuk lengkapnya

Everybody want him in their club


Sayangnya Vidal justru lengket di pikiran non juventini sebagai seorang "brengsek, culas, kasar", mereka lebih suka menyimpan memori Vidal yang menendang tanah ketika melawan Madrid, menjegal kasar pemain Barcelona, dan baru-baru ini, kecelakaan yang bisa saja merenggut nyawa keluarganya sendiri dan sempat mengeluarkan statement angkuh mengenai Chile yang akan hancur tanpanya jika dia ditangkap. Semua kejadian tersebut terjadi karena dia mengemudi dalam kondisi mabuk setelah meninggalkan sebuah casino. 

Well, jika hal ini justru menjadi "main point" dalam menilai Vidal, sudah seperti ibu-ibu yang menonton sinetron saja, suka main hakim sendiri dan harus ada antagonis-protagonisnya :)))

Begini, Saya coba beberkan 6 fakta sederhana:

1. Vidal adalah Box to Box midfielder terbaik saat ini


2. Vidal adalah seorang juara, seorang petarung, dengan berbagai medali dan trofi yang sudah diraihnya.


3. Vidal bersama Pogba adalah the Most Wanted transfers commodities, sampe bosan Juventini baca beritanya.


4. Vidal adalah tipikal pemain yang anda cintai jika ia bermain untuk timmu, tapi akan kamu benci jika ia bermain sebagai lawanmu. Dia bukan seperti Zidane, Del Piero, Pirlo yang flamboyan dan lovable-licious.


5. Vidal adalah seorang gelandang box to box terbaik, seorang juara, seorang most wanted, seorang yang "love to be hated"-able, namun juga seorang manusia, seorang pemain sepakbola dengan berbagai godaan gaya hidup glamor yang juga dialami banyak bintang. Tapi setelah kesalahannya kemarin dan sadar dari pengaruh alkohol ia berkata "ini semua salah saya, saya telah membuat istri saya dan banyak orang dalam kondisi bahaya", mengakui kesalahannya dan membayar dengan penampilan luar biasa untuk Chile pagi tadi (20 Juni 2015).



6. Memanfaatkan momentum ini untuk mendeskriditkan Vidal, tidak membuat 5 fakta di atas terhapuskan, dan tidak menaikkan derajat klub anda ke posisi yang lebih baik lagi. Hahahahaha



Mohon maaf lahir dan Batin
Arturo Vidal Ale! Arturo Vidal Ale! Arturo! Arturo! Arturo! Arturo! Arturo Vidal Ale!!!

Febrila Arifpraja

*semua foto dan statistik di atas adalah bukan hak milik saya, klik for the original url




Jumat, 19 Juni 2015

Benvenuto Mandzukic?


iseng-iseng menyambut kedatangan si raksasa "bengal"

Mandzukic adalah pemain yang akan kamu benci jika ia adalah lawanmu, tapi akan kamu cintai jika ia bermain untuk timmu. Itu adalah kesan yang saya dapatkan selama menyaksikan permainannya ketika melawan Juventus, juga ketika Kroasia melawan Italia. Seperti berjodoh, Mandzukic sering sekali berduel melawan Chiellini, Bonucci, Buffon, dkk. Entah itu di Bayern Muenchen, Atletico Madrid, ataupun di timnas Kroasia. Terakhir Mandzukic "membuat" Buffon menepi karena cidera.

Mandzukic adalah pemain yang memiliki postur seperti Llorente, sehingga beberapa Juventini menganggap ini tak lebih dari sekedar menambah stok Target Man. Tapi pemikiran seperti itu (menurut saya) sangat salah, karena mereka berdua sangat bertolak belakang dalam hal sifat dan gaya bermain.

Great skills and grinta
Jika Llorente terlibat dalam banyak post play dan possession, Mandzukic bisa bermain layaknya seorang "number 9" juga memiliki skill dan kecepatan yang lebih baik untuk membangun serangan. Lalu, jika Llorente adalah seorang gentle giant, sedangkan Mandzukic adalah seorang "mad giant". Bisa kita lihat dari gif di atas, 8 detik yang sangat merepresentasikannya (gif adalah olahan saya sendiri dari video youtube). Sedangkan persamaan dari Llorente dan Mandzukic, keduanya memiliki heading yang sangat baik, bisa dikatakan mereka adalah 2 dari yang terbaik. Mari kita lihat beberapa statistik di bawah;
Whoscored.com

Football Manager 2015 stats
Kedua statistik dari whoscored dan FM 2015 saya rasa sudah sangat menjelaskan bagaimana kemampuan Mandzukic. Mengutip dari Football Manager mungkin terlihat tidak profesional, tapi hei! saya tidak mencoba menjadi seorang profesional. Kita juga harus mengakui, seorang FM lovers pasti tahu betul bagaimana kemampuan scouts dari FM kan ;). Lagipula site sekelas Squawka.com justru sering mengupas statistik dari game sepakbola FIFA. Hahahaha.

Jadi apakah Mandzukic adalah pengganti Tevez yang ideal? Pertama, Tevez tidak tergantikan, perannya sebagai seorang nomor 10 telah membuat kita mulai "move on" dari pemilik no.10 sebelumnya. Walaupun kehadirannya di Juventus Stadium sangat singkat, tapi Tevez telah memberikan kita kesan yang sangat mendalam melalui gol-gol yang hadir dalam waktu yang tepat.

Kedua, mungkin kita sering lupa kita masih punya Morata dan Dybala, masih ada Berardi dan Zaza yang akan ditentukan nasibnya musim depan. Ketiga, sepertinya Marotta belum berniat berhenti berbelanja pemain. Terakhir kali, Allegri dengan gamblang menyebut ia butuh seorang trequartista, sambil menyebut nama-nama seperti Oscar, Isco, Pastore, dll.
 PS: Mandzukic adalah seorang juara Liga Champion, seperti Khedira, apakah ini sebuah clue dari Marotta tentang target Juve musim depan?

So, Benvenuto Mandzukic?

Febrila Arifpraja
@febrillanna


Kamis, 18 Juni 2015

Marhaban ya Ramadhan

Tidak terasa Ramadhan telah menghampiri kita kembali. Ramadhan dalam kenangan saya semasa "muda"(bujangan,red) dulu adalah menanti sahur sambil menonton sepakbola. Yah, lumayan tahun ini kita bisa menyaksikan Copa America & Euro U-21. Tapi sekarang saya sudah tidak lagi begadang untuk menanti sahur, sudah ada si kecil yang harus dijaga siaga pagi-siang-malam, jadi biasanya tengah malam sudah tepar sendiri.
Marhaban ya Ramadhan, Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1436H, Mohon maaf lahir dan batin.


Chasing Juve: Part 2 (Singapore)

Part 2/2: Singapore

Untuk warga Pekanbaru seperti saya, Singapore memang jauh lebih terjangkau dan singkat dibandingkan ke Jakarta. Kita bisa naik pesawat menuju Batam, lalu tinggal menyebrang menggunakan Ferry via harbourbay ke Singapore.
Perjalanan ke Singapore kali ini saya bersama istri, adik tengah saya (eta) dan ketua Indojuve Pekanbaru (Husni).

Ferry Harbourbay Batam-Harbourfront Singapore

Husni, Ketua Indojuve Pekanbaru; Bintang utama

My 2nd brother, Eta

my wife
 Di Singapore, hype Juventus tidak begitu terasa. Singapore masih seperti biasanya, sibuk, teratur dan seperti tidak ada yang spesial. Berbeda dengan Jakarta, begitu sampai di bandara, sudah terlihat orang-orang berjersey hitam-putih. Begitu sampai di Singapore, kami langsung menggunakan mrt untuk menuju ke hotel di daerah kallang. Hotelnya lumayan dekat dengan kompleks Stadium, jadi kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Dalam perjalanan, kami bertemu dengan beberapa orang Indonesia yang menanyakan jalan pada kami, ternyata mereka berasal dari Makassar. Ya, bisa dikatakan mayoritas yang menonton di Singapore ternyata bukan Juventini dari Singapore. Penduduk Singapore yang menonton memang datang untuk mendukung timnasnya. Sedangkan Juventini sesungguhnya datang dari Indonesia, dan Malaysia. Rekan-rekan indojuve pusat juga sudah duluan mengadakan tur bersama ke Singapore, bakalan bertemu mas Vebbysung dan kawan-kawan lagi.

Husni & Juventini Malaysia

Indojuve (Juvekaskus) Pekanbaru

Pemain sangat nyaman menghampiri penonton
Kami menyaksikan sesi latihan di Singapore National Stadium pada sore hari (fyi: Juventus vs Singapore adalah pertandingan pertama di stadion yang baru ini). Memang tifosi di sini tak semilitan tifosi di Indonesia, bahkan chant paling lantang terdengar dari kursi rombongan Indojuve pusat (kami terpisah seat). Kami duduk di dekat tifosi Malaysia, sialnya ada oknum yang berteriak ke Husni yang sedang lincah kesana kemari "cuci piring, angkat kain", yah hubungan jelek Indonesia-Malaysia masih saja terbawa walau sudah di negeri orang. Beruntung kami tidak terpancing, dan akhirnya seiring waktu berjalan, kehangatan yang dibawa squad Juventus mencairkan suasana. Lihat saja husni sudah sempat berfoto bersama mereka (contoh yang baik, hahahaha).

Yang bikin saya sedikit terheran adalah ternyata ada sesi dimana pemain mendatangi penonton yang hadir. Mereka dengan antusias dan santai melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama. Semua pemain berpencar meladeni penonton, di bagian kami ada Emil Audero, Llorente, dan beberapa pemain lainnya (saya lupa pastinya). Saya terheran-heran, di Australia juga terlihat pemandangan yang sama, sementara di Indonesia? sudah bayar mahal malah gak boleh foto (cek part 1) hahahaha. Sebelum terlalu cepat menyalahkan promotor (yang tentunya tetap harus bisa perform lebih baik lagi), kita harus instropeksi pada diri sendiri. Ini adalah bukti bahwa image Indonesia di mata dunia, belum bisa memberikan kenyamanan bagi para pemain (secara umum: masyarakat dunia). Contohnya bawa petasan ketika di GBK, itu manfaatnya apa ya? saya yakin itu bukan Juventini yang sesungguhnya. Juventini akan "meledakkan" suasana dengan chant dan corinya, bukan dengan petasan dan semacamnya.

Llorente adalah pemain paling ramah dan gentle kepada fans, terlihat sejak di Indonesia.

Saya bayar jutaan rupiah untuk ini, dan tak bisa berfoto. Husni di Singapore dapet sign & foto, kesel gak?
FYI: baju ini akhirnya dilelang untuk amal yang ditaja Juve4care. Salut hus!
There yo go, the luckiest man on earth that day, Husni berhasil berfoto bersama Llorente dan mendapatkan tanda tangan beberapa pemain. Saya senyum-senyum pahit, karena dompet saya mulai bergetar lagi, mungkin mentertawakan saya (baca part 1).

Next day, akhirnya datang hari pertandingan antara Juventus vs Singapore. Karena laga baru dimulai sore-malam hari, kami memutuskan buat main-main ke Marina bay dulu. Sekalian melihat peluang untuk berkunjung ke Fullerton Hotel, tempat menginap rombongan Juve. Benar saja, ternyata sangat bebas dan tidak terlalu rame, kami pun memutuskan untuk hunting tanda tangan lagi!!

Singgah sebentar ke Marina Bay

Sebelum masuk ke bus, pemain-pemain Juve dengan santai meladeni penonton

 Setelah puas berfoto di Marina bay, di patung Merlion, dan lain sebagainya, kami pun bergerak ke Stadion. Akses menuju stadion sangat mudah dan terjangkau, bisa via MRT/Bus, (come on Indonesia, we can do more). Di stadion, kami mendapatkan seat di tepi lapangan, pemain Juventus bebas lalu lalang dan sangat ramah menyapa balik penonton. Husni masih saja berburu tanda tangan, korbannya kali ini Simone Pepe, sampai-sampai Pepe yang humoris itu pun kesal "lagi latihan bro!!" kira-kira itu jawabannya ke Husni. hahahahaha.

Kami mendapatkan seat di tepi lapangan, pas di tempat pemain Juventus melakukan pemanasan

Marchisio kharismatik sekali, padahal cuma lari...

Enjoying the game

Husni Masih saja berburu, hahahaha

Yang berbaju kuning di sana adalah rombongan Indojuve, suaranya memenuhi seisi stadion

Secara objektif saya katakan bahwa tur Juventus di Singapore lebih rapi, dan lebih hangat suasananya. Pemain lebih santai, pelaksaannya lebih siap dan terorganisir. Tapi Indonesia jauh lebih unggul untuk urusan antusiasme dan animo Juventini. Para pemain, dan rombongan Juventus lainnya mengakui bahwa memang Indonesia luar biasa. Bahkan para videographer official Juventus mengakui hal ini kepada kami secara langsung, ketika mereka tau bahwa kami dari Indonesia, dan rombongan Indojuve pusat yang tidak berhenti menyanyikan chant. Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala "wow, Indonesia" in a very slow motion.

Sebelum pulang, kami sempatkan berbelanja oleh-oleh di Mustafa centre, dan tentu saja mencari makanan halal untuk mengisi perut kami yang sudah kosong dan berbunyi. Perjalanan yang sangat berkesan, akhirnya proses mengejar Juventus selama tur di Indonesia & Singapore berakhir. Thanks Juve, you've bring so much happiness.

Chasing Juve, The End.

Febrila Arifpraja
@febrillanna

A nice jourrney

Ciao!


Rabu, 17 Juni 2015

Chasing Juve: part 1 (Jakarta)

Juve coming to Australia, Singapore, & Jakarta.

Part 1/2: Jakarta

Begitu mendengar kabar Juve akan datang ke Australia, bulu kuduk langsung merinding, excited! buku tabungan pun bergetar, ketakutan!
Getaran buku tabungan ternyata lebih kuat daripada rindingan bulu kuduk, maklum saja, tahun 2014 saya baru saja merampok tabungan saya untuk menyinggahi tanah suci Turin. Akhirnya saya ikhlas merelakan dan mengikhlaskan kemungkinan untuk menonton Juve lagi, secara langsung.

Udah pindah ke Australia, masih tetap "bermanfaat" bagi Juventus & Juventini
Tiba-tiba terdengar kabar kalau Juventus akan "singgah" ke Singapore, nah bulu kuduk semakin merinding. Kemudian sah sudah, Juventus juga akan mampir ke Indonesia, habislah sudah sekujur tubuh merinding hingga getaran buku tabungan tak lagi terasa.
Awalnya saya memilih untuk menonton di Singapore saja, karena saya berdomisili di Pekanbaru, transport via Batam akan jauh lebih terjangkau daripada ke Jakarta. Tapi setelah itu saya justru tersedot ke Jakarta karena poster meet & greet yang diupload promotor Jakarta (sebut saja namanya bunga).

Racun yang menyedot saya ke Jakarta

Saya pun memutuskan untuk ikut ke Jakarta, ditemani sang istri, kami berangkat ke GBK membawa mimpi berjumpa langsung dengan para punggawa Juventus. Di Jakarta, saya langsung kumpul dengan teman-teman dari Pekanbaru yang juga sudah berangkat lebih dahulu.
Kami mendatangi sesi latihan Juve di GBK setelah makan tempe mendoan bersama. Luar biasa, antusiasme yang membakar atmosfer GBK, GBK mendadak hitam putih, diwarnai chant-chant dan inno Juve. Grinta yang bisa saya katakan mengalahkan rekan-rekan Juventini di Turin, ya, saya ulangi, JUVENTINI DI INDONESIA > JUVENTINI DI ITALIA. Ini adalah pendapat yang bisa saya pertanggung jawabkan, setelah saya menonton langsung pertandingan Juve di J Stadium dan perayaan scudetto di kota Roma & Milan oleh para Juventini. Jika di J Stadium anda akan menemukan Grinta selevel ini di Curva Sud & Nord, di GBK anda akan menemukannya di seluruh bangku-bangku tempat Juventini menonton pertandingan.
Esoknya saya menghadiri sesi meet n greet, hati sungguh tidak sabar ingin bertemu pemain juve. Sayangnya seluruh ekspektasi bahagia tersebut perlahan berkurang, karena panitia tiba-tiba mengubah rules, TIDAK BOLEH BERFOTO. Sejujurnya saat itu banyak sekali peserta yang sudah tersulut emosinya, saya sendiri juga dibentak oleh seorang petugas karena curi-curi foto (bodo amat).
foto "curian"

Sagu hati dari panitia, ya cuma 1 foto ini
Di sana sudah ada Marco Motta, Marrone, Pepe, Giovinco, Vidal, Storari, & Pirlo. Benar-benar sayang sekali, saya tidak dapat berfoto, padahal di poster jelas-jelas disebutkan di meet & greet ini termasuk foto. Esoknya twitter promotor (yang tadi kita sebut namanya bunga) melakukan konfirmasi bahwa kebijakan ini adalah permintaan langsung dari Juventus, dan mereka akan mengupload foto yang mereka ambil untuk "sagu hati" kekecewaan kami. Saya pun sedikit lega, setidaknya sampai akhirnya foto tersebut diupload, ternyata tidak semua peserta diambil fotonya oleh panitia. Saya sendiri, hanya mendapatkan foto di atas, terpotong, dan Pirlonya ketutup rambut cepak om-om panitia.

Sagu hati yang sebenarnya
Di balik kekecewaan tadi, saya bersyukur setidaknya membawa pulang sebuah jersey dan pajangan yang bertanda-tangan para pemain Juve, terutama idola saya King Vidal. Selain itu ternyata saya berkesempatan berfoto bersama 2 selebriti yang juga dikenal sebagai Juventini, Mbak Dona Agnesia & Mas Lucky Perdana. Juga sempat bertemu kembali dengan presidente pertama Juventus Club Indonesia, mas Koko, juga bertemu presidente Indojuve (juve kaskus) mas Vebbysung. A lovely day!

Yang akhirnya mengangkat mood saya lagi dan membungkam buku tabungan saya (yang mulai mentertawakan keputusan saya), Juve tampil sangat apik, dan tentu saja Juventini yang tak henti-hentinya menyanyikan ino, cori, chant, apa saja, hingga pertandingan berakhir.

Ah! satu lagi, saya juga ternyata masuk di Video official di youtube Juventus yang berjudul Terima Kasih Indonesia! Cek di detik ke 53. A simple but meaningfull happiness.





Itu adalah part 1 di Jakarta, selanjutnya saya akan share perjalanan selama di Singapore di part ke 2. Singapore akan lebih seru, kenapa? stay tuned! (asik)

ps: perjalanan di Jakarta takkan sama berkesannya tanpa Diko & temennya (mereka berdua hoki banget di sini), Gana, bang Ricky, Mas Joko & bang Musdalil, (tempe mendoan yang dimakan bersama) dan tentu saja istri saya.  

Febrila Arifpraja
@febrillanna



Selasa, 16 Juni 2015

SEBUAH PROLOG:Mencintai si Nyonya Besar



Era keemasan, sebuah awal...

Kedigdayaan Juventus di tahun 1995-1998 adalah suatu hal yang absolut, tidak dapat diperdebatkan, dan melahirkan banyak (sekali) cikal bakal Juventino-Juventina di seluruh dunia. Bagaimana tidak, Juventus tembus ke final Liga Champion 3 kali berturut-turut, satu diantaranya (95/96) berhasil membawa si kuping lebar ke Turin. Plus Juventus adalah pemenang Serie A tiga kali pada rentang masa yang sama (94/95,96/97,97/98).

Juve memang masih belum segarang di Serie A ketika bermain di Liga Champion. Tapi maaf kata, sebelum masa itu, Liga Champion bukanlah sebuah prestise, jika anda adalah penikmat bola yang sudah berpengalaman, anda akan mengamini, Liga Champion pada masa itu kalah gengsi dengan Serie A. Masa emas ada di sepanjang 90an dibuka dengan kemegahan AC Milan di era Arrigo Sacchi, sebuah tim yang hingga saat ini adalah rival yang paling saya hormati.

Masa emas bagi pertumbuhan tifosi di Indonesia, pada rentang dekade itu, Serie A menjadi primadona, tayang secara eksklusif di saluran TV bergengsi pada masa itu. Sementara Premiere League belum memulai revolusi industri mereka yang digawangi Rupert Murdoch (Suatu saat nanti saya akan membahas tentang revolusi di balik keberhasilan Premiere League, hingga bisa menggeser Serie A.), hanya menjadi alternatif di stasiun TV yang "masih rookie". Sementara La Liga? perlu waktu yang lama, hingga bisa muncul menjadi pilihan. Padahal saat itu Real Madrid sudah merajai Liga Champion (see? not yet special). Ini adalah fakta yang saya recall dari ingatan anda, tak bermaksud mengurangi rasa hormat saya pada klub lainnya.


Bocah seksi itu saya, sedangkan yang memakai jersey Ricken, adik bungsu saya

Di antara rentang masa emas tersebut, saya yakini, adalah saat lahirnya/tumbuh besarnya para Juventino-Juventina yang anda kenal saat ini. Tak terkecuali, seorang anak yang dari kecil sudah bertubuh gempal dan seksi, saya sendiri. Saya memulai kisah cinta saya melalui "comblangan" ayah saya, tapi tidak, dia bukan seorang Juventini, bahkan dia tidak seorang penonton sepakbola. Dia membeli Jersey juventus bernomor punggung 10, Del Piero, secara random melalui intuisi, ilham, atau entah apa itu namanya, yang menjadi sebuah prolog dari kehidupan saya sebagai seorang Juventino, jatuh cinta pada pandangan pertama. Foto di atas adalah foto tahun 2002, bukan dengan jersey yang saya maksud di atas (diambil ibunda secara "candid yang hakiki").


Siapa yang sanggup tidak hormat padanya?

Anda Juventino? Saya yakin sebagian besar anda jatuh hati pada Juventus karena pria yang satu ini, yang terkenal dengan quotenya "A true gentleman will never leaves his lady". Tanpa kalimat ini, tanpa inspirasi yang diberikannya (bersama Buffon, Nedved, Camoranesi & Trezeguet), apa mungkin saat ini anda masih seorang Juventini? setelah Farsopoli menghempaskan kita habis-habisan?
Akuilah, sangat sulit untuk menjawabnya, saya pun tak tahu, tanpa tauladan mereka, mungkin kita sudah terhempas "mengungsi" menjadi fans klub lain.

Lalu sejauh apa manfaat saya menggilai Juventus & Del Piero, many people say "hei feb!, take it easy, no need for such emotions, this is just football!". Well, nope... Juventus dan Ale bukan sekedar Sepakbola, Juventus dan Ale adalah sebuah pembelajaran kehidupan, Juventus dan Ale adalah cara terbaik bagi seorang anak muda belajar tentang Cinta dan Kesetiaan.

Terdengar begitu naif dan berlebihan?

Perkenalkan saya, seorang Juventini yang memiliki seorang istri, yang merupakan pacar saya sejak masih SMP, teman sejak SD, dia dan saya adalah cinta pertama bagi masing-masing kami. Tentu ini adalah campur tangan Tuhan melalui rahmatNya mempertemukan saya pada jodoh yang Dia restui, namun mungkin ini juga berkat Tuhan yang mempertemukan saya pada Juventus & Alessandro Del Piero. Saya semakin menghargai cinta dan kesetiaan.

Juventus jugalah yang membawa saya bermimpi untuk berkeliling Eropa dan menyinggahi "tanah suci Turin" bersama sang istri, kemudian dapat mewujudkannya melalui kerja keras dan api cinta yang dijaga tetap menyala.

Juve, Storia di un Grande Amore...

Febrila Arifpraja.

Source of many gentlemen inspiration

That little boy that you've seen earlier...