Selasa, 27 Oktober 2015

JATI DIRI

Lumayan lama tidak menyentuh blog yang satu ini, padahal ada banyak hal yang menarik untuk didiskusikan dari Juventus di musim ini. Anak, tesis, kerjaan, sampai ke asap jadi beberapa alasan yang lumayan mengganggu ke-Juventini-an saya beberapa waktu belakangan, bahkan belakangan sudah tidak pernah nobar, malahan sering telat nonton Juve (Juve-Atalanta join di menit 40). Ya, jati diri saya sebagai Juventini sedang diuji :))

Berbicara tentang jati diri, kurang lebih itulah permasalahan utama Juventus di Musim ini. Ditinggalkan banyak pemain penting (yeah), pemain kunci dilanda cidera, Pogba yang dibebani no.10, hingga striker kita (yang sebenarnya cukup mentereng) yang seperti kehilangan magis di klub lamanya. Semuanya berkaitan dengan pencarian jati diri, entah itu jati diri sang pemain dalam perannya di permainan Juve, maupun jati diri permainan Juve itu sendiri.

Cukup lama coach Allegri bongkar pasang formasi dan susunan pemain hingga akhirnya ditemukan pakem yang pas. Untungnya proses pencarian Jati Diri tadi justru mengantarkan pemain Juve menjadi memiliki kekayaan strategi, yaitu kemampuan mereka mengubah formasi dari 3-5-2 menjadi 4-3-3 dalam satu pertandingan tanpa perlu pergantian pemain. Plus, Juve-Atalanta kemarin menunjukkan Juve juga mampu memainkan 4-3-1-2 kapanpun Juve membutuhkan.

Juve's Fluid Formation in Recent Games

Kembalinya Khedira dan Marchisio menjadi titik balik kebangkitan Juventus, lini tengah menjadi lebih stabil, konsisten, dan "mature". Pogba terlihat lebih composed ketika didampingi Khedira & Marchisio, walau terkadang masih terlihat beberapa trik yang tidak perlu. Khedira di satu sisi berhasil menampilkan sebuah permainan yang efektif dan penuh konsentrasi, secara personal saya melihat kita seperti memiliki "Barzagli di lini tengah". Ya, seperti Barzagli, Khedira jauh dari spotlight, bermain ringkas dengan umpan-umpan pendek, sederhana, namun sangat jarang melakukan kesalahan, dan hampir selalu memenangi duel-duel ketika dibutuhkan.

Berbicara tentang Barzagli, teman-teman di twitter pasti mengenal saya sebagai pengagum Barzagli (dan Vidal) di squad Juve era Conte-Allegri. Namun sungguh saya tidak pernah menyangka Barzagli mampu memainkan peran "siluman" sebagai bek kanan. Beberapa kali ia malah menunjukkan penetrasi layaknya seorang wingback muda, lalu umpan-umpan panjang seperti Pirlo untuk menemani pergerakan Cuadrado, Tentu saja kehadirannya dimaksudkan untuk memberi Cuadrado keleluasaan untuk membawa bola dan memimpin serangan tanpa perlu khawatir berbuat kesalahan. Barzagli selalu siap "cleaning his mess" atau bahkan membantu serangan. Watch out Lichtsteiner! :D

JUVE VS ATALANTA

Banyak rilisan media yang meramalkan Juve akan melakukan rotasi di pertandingan ini, walau tidak sesignifikan yang diramalkan media, Allegri terbukti melakukan beberapa perubahan. Diantaranya adalan memainkan formasi 4-1-2-1-2 dengan Pereyra sebagai trequarista. Namun setelah Pereyra cidera, Allegri memainkan Asamoah, sehingga bisa kita lihat Pogba bermain sebagai no 10 murni.

Juve vs Atalanta
Dalam beberapa pertandingan saya seringkali kesal pada sikap Pogba yang kadang terlalu demanding, melakukan beberapa trik, lalu rekan setimnya sendiri justru kebingungan. Setelah triknya gagal dimengertu (bahkan oleh saya penonton yang bisa melihat lapangan lebih luas), Pogba biasanya mengomel sendiri dan kadang terlihat mencak-mencak. Saya selalu berfikir WTH POGBA!! it is your own mess!!.

Dalam pertandingan Juve vs Atalanta Allegri akhirnya memberikan Dybala kesempatan untuk bermain sejak awal. Di sini saya menyadari ternyata kekesalan Pogba di game-game sebelumnya cukup beralasan, trik-trik dan passing-passing ajaib Pogba mampu dimengerti dan diolah oleh Dybala, seseorang yang punya level teknik yang sama dengannya. Imajinasi Pogba gagal dipahami oleh Mandzukic, Zaza, bahkan Morata, namun bisa dicerna dengan baik oleh Dybala, seolah mereka sudah bertandem selama 3 tahun.

videos from @ADP1113


Walau Juventus telah menemukan pola dan peran pemain yang tepat, tapi Juventus masih membutuhkan waktu untuk benar-benar melebur menjadi sebuah tim. Terutama pakem di lini depan yang masih membingungkan, atau bisa jadi Allegri memang sengaja menciptakan lini serang tanpa pakem yang pasti. Mungkin ketika kita melawan defender relatif lambat, kita bisa memaksimalkan pace dari Morata. Ketika ingin mengeksploitasi lawan dengan antisipasi udara yang jelek, kita memainkan Mandzukic. Atau opsi lebih agresif pada diri Simone Zaza, entahlah. Tetapi satu hal yang menurut saya harus dilakukan, kita harus memusatkan serangan pada Dybala-Pogba, biarkan mereka tumbuh sebagai pivot dari tim ini. Kompensasinya adalah inkonsistensi karena mereka masih sangat muda, tetapi itu adalah perjudian terbaik saat ini. Dalam proses tersebut kita juga masih bisa mengandalkan penetrasi Cuadrado, atau sprint-sprint serta placing shots dari Morata.

Jati diri baru dari Juventus pasca Tevez-Vidal-Pirlo perlahan mulai ditemukan. Juventus musim ini telah berganti menjadi tim yang bermain dengan kecepatan dan teknik yang sangat tinggi. Mulai mengeksploitasi sisi sayap yang lama terabaikan, serta kebebasan individual yang lebih sering ditonjolkan. Ini adalah sebuah formula yang sangat jarang digunakan Juventus, karena formula ini memang sering gagal di Serie A yang sangat taktis dan posisi bek lebih dalam dari liga lainnya. Sisi positifnya? lihat bagaimana performa Juve di Liga Champions, di sini seluruh tim bermain lebih terbuka, sehingga kelebihan Juve musim ini lebih mendapat ruang. Seperti yang sering saya bahas di twitter, kebanyakan Juara Liga Champions bermain menggunakan 4-3-3 dengan wingback agresif yang sering membantu serangan dan para winger yang melakukan penetrasi ke kotak penalti. Wait... Is this Juve were meant to build for...

FORZA JUVE!!!

Kamis, 20 Agustus 2015

Benvenuto Alex Sandro



Rumor Siqueira begitu deras di bursa transfer musim ini, banyak sumber kompak mengatakan bahwa transfer ini hanya menunggu fase terakhir, tanda tangan & tes medis. Medengar hal ini sudah sangat membuat Juventini berbahagia, karena Juve memang membutuhkan sebuah opsi yang lebih segar di posisi bek sayap, khususnya di sisi kiri dimana Evra sudah cukup berusia dan Asamoah akan diplot untuk bermain sebagai gelandang tengah.

Juve memang memiliki sosok wingback yang solid di diri Evra dan Lichtsteiner, opsi pemain lapis pun sudah cukup memuaskan dengan adanya Simone Padoin (no joke). Tapi Juve membutuhkan opsi wingback yang lebih ofensif dan eksplosif, opsi ini terutama dalam hal penetrasi serangan serta crossing yang masih belum maksimal di squad Juve musim lalu.

Ternyata bukan Siqueira yang datang, melainkan seorang wonderkid (or an ex wonderkid) yang sudah lama mencuri perhatian klub-klub besar, Alex Sandro! Analisa saya pribadi, tawaran terhadap Siqueira memang benar adanya, namun pada saat fase-fase krusial, beredar info bahwa Alex Sandro menolak untuk memperpanjang kontraknya yang akan segera habis. Ini menjadi turning point bagi Marotta dan timnya, terutama setelah Manchester City datang dengan penawaran yang lebih rendah dari penawaran awal Juve. Beppe langsung bergerak cepat menawar dengan harga tinggi walau sisa kontraknya tinggal sedikit lagi, pola ini mengingatkan kita pada transfer Vidal dari Leverkusen. Marotta pagi tadi dalam interviewnya mengatakan bahwa harga tersebut pantas untuk sebuah investasi yang bagus.

Dengan datangnya Alex Sandro, Juve memiliki pilihan seorang wingback yang mampu memenangkan pertandingan 1 lawan 1 dengan dribble dan tekniknya. Crossingnya juga cukup bagus, setidaknya lebih bagus dari Evra atau stok wingback lainnya. Hal ini sangat diperlukan karena di musim-musim yang lalu Juve bisa dibilang menyia-nyiakan potensi Llorente yang jago di udara, terlihat ketika tersudut barulah Allegri memasukkan Pepe atau menaikkan posisi Lichtsteiner untuk menyupplai Llorente, dan beberapa kali terbukti efektif. Musim ini kita memiliki Mandzukic dan Zaza yang memiliki kemampuan untuk memanfaatkan crossing, mudah-mudahan Juve bisa memaksimalkan hal ini.

Berikut beberapa statistik Alex Sandro

stats from Football Manager (admit it, they have great scouts, no joke)

no serious injuries so far, important fact for Juve

perfomance stats, check the details on transfermarkt.com
Stats from transfermarkt.com




Kita cukup terkejut dengan kehadiran Alex Sandro, namun ini merupakan sinyal bahwa Beppe Marotta tidak akan segan-segan bergerak cepat ketika peluang yang baik muncul, walau harus merogoh kocek dalam. Well another signing Beppe? a Trequartista? a def.mid? a regista? can't wait.

Benvenuto Alex Sandro!!!




Jumat, 07 Agustus 2015

Persiapan Awal Musim Juventus



Juventus musim ini mengalami sebuah revolusi yang cukup besar. Kepergian Vidal seperti petir di siang bolong bagi Juventini, di twitter saya jelaskan bahwa saya percaya kepindahan ini adalah sebuah "reaksi" atas suatu kejadian yang kita tak akan ketahui pasti setidaknya beberapa musim ke depan. Terlihat bagaimana Marotta berbicara di interview beberapa hari belakangan tentang kepergian Pirlo dan Tevez, tapi tidak mengenai Vidal.



Saya pribadi berpendapat Vidal sengaja "points out" motif juara UCL sebagai alasan kepindahannya ke Muenchen, sebagai ghost-statement kekecewaannya terhadap manajemen Juve yang gagal menunjukkan ambisi UCL setelah "merelakan Tevez & Pirlo". Untuk detail analisa bisa dicek di twit saja di tanggal 28 Juli. @febrillanna


Pencapaian Marotta dan Paratici membuat banyak fans justru menyalahkan Vidal dan yakin bahwa manajemen akan berbuat sesuatu yang terbaik, seperti yang sudah-sudah. Ya, tak ada pemain yang lebih besar dari Juventus itu sendiri, begitu Agnelli mengajarkan kita. Kita juga sudah terlalu sering dibungkam oleh pembuktian Marotta, kita pun mulai tidak berani mengkritik pergerakannya :D

Laga Persahabatan

Hasil pramusim sejauh ini cukup mengecewakan, seperti musim yang sudah-sudah. Tapi salah jika kita menyamakan pramusim kali ini dengan pramusim-pramusim sebelumnya, ada perbedaan yang sangat mencolok; permainan Juve tidak meyakinkan.

Jika di pramusim-pramusim lalu Juve gagal mencapai hasil skor yang baik, tetapi di lapangan kita memainkan sepakbola yang teratur dan terintegrasi pada sistem yang baik. Hasil buruk dikarenakan banyak pemain kunci yang masih beristirahat pasca turnamen internasional. Permainan Juve terlihat masih sangat connected walau pemain terlihat membatasi determinasi dan agresifitas.

Di pramusim 2015/2016 Juve benar-benar terlihat kehilangan daya gedor atau setidaknya sebuah pakem yang bisa diandalkan.
Melawan Dortmund sangat tidak adil untuk menghakimi Juve, karena Dortmund sudah memainkan laga persahabatan 4 kali, sementara Juve baru kali pertama.
Melawan Lechia mulai terlihat serangan Juve memang dibangun "asal-asalan", terbukti gol pertama Juve hadir melalui sebuah corner, gol kedua memang lahir dari open play, tapi open play yang instant, sebuah early cross yang diolah Mandzukic secara individual.
Melawan Marseille kelemahan Juve makin kelihatan, Juve benar-benar kehilangan poros serangan, kehilangan salah satu dari Pirlo, Tevez atau Vidal mungkin masih bisa diatasi. Tapi juve kali ini kehilangan ketiganya sekaligus, sedangkan musim-musim lalu mereka bertiga adalah poros 80% serangan Juve. Di pertengahan laga, beberapa pemain Juve justru terlihat seperti "lose their head", ya memang peforma wasit dan permainan keras Marseille cukup berpengaruh juga. Catatan positif dari laga ini adalah sang #Pogba10 yang tampil luar biasa.

Someone to rely on, hope it won't be a burden for Pogba

Di laga versus Marseille kita malah mendapatkan sebuah kejadian kurang mengenakkan, yaitu cideranya Sami Khedira, kartu joker yang seharusnya jadi salah satu harapan kita musim ini. Menepi 2 bulan berarti kita akan kehilangan Khedira di 8 laga awal, belum lagi seorang pemain yang baru sembuh dari cidera membutuhkan waktu setidaknya 1-2 bulan untuk benar-benar fit. Om @dwicarta bahkan merasa Khedira mungkin tak akan benar-benar berguna di tahun ini. Asamoah yang disiapkan untuk kembali bermain ke tengah, juga masih dibekap cidera setelah musim lalu juga menepi hampir 1 musim. Praktis di gelandang bertahan Juve hanya menyisakan Sturaro sebagai pemain yang fit dan siap tampil.

chance for Sturaro
Sturaro bagi beberapa Juventini dipandang siap untuk muncul memikul peran Vidal sebagai gelandang angkut air, peforma apik musim lalu jadi pegangan Juventini. Apalagi goal cancellingnya di bibir gawang ketika melawan Real Madrid di musim lalu mengangkat namanya di kalangan Juventini. Tetapi perlu kita ingat, semua itu ditawarkannya ketika Sturaro didampingi pemain senior seperti Pirlo dan Vidal, mampukah ia menjalankan peran tersebut sebagai seorang "pemeran utama"? 8 laga awal musim ini adalah sebuah ujian yang ideal, sekaligus sebuah pertaruhan yang sangat berbahaya bagi Juventus.

Di sisi lain, cideranya Morata justru tidak begitu membuat khawatir. Tidak seperti Khedira, kita punya pelapis yang cukup baik secara kuantitas dan kualitas. Justru ini seperti blessing in disguise karena akhirnya kita bisa melihat pembuktian duo Mandzukic-Dybala.

Seluruh permasalahan ini akan semakin terlihat menyebalkan jika kita melihat pergerakan transfer klub-klub rival di Serie A. Peforma impresif Int*r Milan, Roma, dan AC Milan di bursa transfer membentuk poros kekuatan yang baru dan cukup mengancam Juventus. Beruntung klub Serie A lainnya juga mengalami hasil-hasil pramusim yang buruk, wajar karena praktis hampir semua klub mengalami perombakan besar, kecuali Lazio yang tergolong stabil karena tidak ada perubahan yang berarti. Bisa dibilang jika melihat kesiapan tim Serie A lainnya, Juventus masih merupakan unggulan, kendati seluruh klub start dari garis yang sama.

Missing link



Sebenarnya manajemen sudah sangat paham akan kekurangan yang harus dilengkapi di bursa transfer kali ini, terutama pada sebuah posisi yang sangat obvious, TREQUARTISTA. Hanya saja yang membuat saya cukup resah adalah pergerakan transfer Juve yang masih tetap saja seperti Juve di awal membangun, terlalu mengincar peluang dan bargain yang tepat. No disrespect to Marotta and co, they are already a legendary team with their eyes and negotiating skills. But seriously? setelah Juve mendapatkan uang dari pencapaian musim lalu (penjualan Vidal, Juve finish sebagai runner up UCL, dan melapangkan slot gaji) apa Juve juga akan tetap menawar Trequartista berkualitas dengan harga murah?

Terlihat Marotta di interview mengatakan "Juve tidak butuh trequartista, Juve punya Dybala untuk posisi itu". Allegri langsung menjawab tak sampai 1 hari "Dybala bukan trequartista, setidaknya Juve harus mendatangkan gelandang kreatif".Interview Marotta tentu saja adalah sebuah decoy agar Schalke dkk menurunkan harga pemainnya yang terlanjur tergoda oleh Juventus. Tapi Allegri (yang merasakan kesulitan tactical) langsung menganulir manuver Marotta, sebuah bukti bahwa sebenarnya Allegri merasakan keresahan yang harus segera diselesaikan. Ya, jika bukan seorang trequartista, setidaknya seorang gelandang kreatif untuk menahan bola lebih lama, seperti Witsel misalnya.

Saya pribadi merasa Juve setidaknya membutuhkan 3 pemain lagi: wingback kiri, trequartista/mezzala, dan gelandang bertahan.





Wingback Kiri: Siqueira sudah disebut sangat dekat dengan Juve, sebuah kabar yang baik untuk Mandzukic, supply crossing bisa meningkat, tapi semoga mereka tidak berebut penalti seperti di Atletico dulu :)


Juve masih tarik ulur dengan Schalke
Mulai tidak nyaman di Muenchen, namun terkendala Marotta-economic :D



Witsel, Kuat dan Berteknik bagus namun Zenit meminta 30jt euro

Trequartista/Mezzala: Draxler dan Gotze adalah 2 nama yang paling sering disebut untuk posisi trequartista, sementara Witsel adalah opsi lainnya yang juga sangat sering disebut, bahkan sang pemain dan agennya sudah beberapa kali menyebutkan nama Juve di media, they want Juve badly

Gelandang Bertahan: Mascherano beberapa kali disebut, perwakilan agency Mascherano juga menyatakan keinginan kliennya untuk bermain di Serie A, namun hal ini dengan cepat dibantah pihak Barcelona. Sebenarnya posisi gelandang bertahan tidak terlalu krusial karena Juve punya banyak opsi, tapi cideranya Khedira & Asamoah cukup untuk menjadikan posisi ini kembali "panas". Tergantung pada manajemen apakah berani bertaruh pada Sturaro?

Perkiraan formasi 2015/2016

#POGBA10

Masalah transfer dan cidera belum tuntas, tapi Juventus memberikan sebuah kabar yang cukup mengejutkan, yaitu Pogba musim ini akan menggunakan nomor sakral 10. Beruntung nomor 10 ini menurut press release Allegri merupakan permintaan langsung dari Poga sendiri, jika tidak kita bisa berfikir jangan-jangan ini modus manajemen saja agar Juve tidak perlu mencari trequartista ;)

Secara finansial keputusan ini akan menguntungkan, penjualan Jersey dijamin semakin meningkat. Nah yang menjadi pertanyaan adalah mampukah Pogba meneruskan kedigdayaan yang diwariskan oleh pemain seperti Boniperti, Platini, Baggio, Del Piero, dan Carlos Tevez? Yang jelas sepertinya Mino Raiola bakal sedikit kesal karena keputusan ini mau tak mau menbuat Pogba akan bertahan lebih lama. Semoga!


7 Agustus 2015
Febrila Arifpraja
@febrillanna

Kamis, 09 Juli 2015

Arrivederci Pirlo & Ad10s Tevez


Berbagai rumor tentang Pirlo dan Tevez sudah bergema sejak Januari 2015 lalu. Belum lagi Tevez sebenarnya sudah sejak di Manchester City telah berkali-kali menyatakan akan pulang kampung ke Boca, Juventus baginya adalah a really sweet contingency plan.
Separoh Juventini (termasuk saya) sudah mulai bersiap merelakan mereka berdua. Tapi pencapaian Juve di Liga Champion membuat saya berharap Tevez dan Pirlo akan berfikir ulang. Mereka seharusnya penasaran dan akan mencoba lagi merebut piala yang sudah sangat dekat di depan mata, begitu harap saya.

Carlos Tevez


Tevez hadir di Juventus membawa sebuah keberanian yang lama dinantikan oleh Juventini, Tevez langsung menggunakan nomor keramat 10 yang ditinggalkan Alessandro Del Piero, sedikitpun tidak terlihat takut atau bahkan terbebani.

Have no fear Tevez?
Selama berada di Juventus, Tevez berhasil memainkan peran krusial No.10 dengan sangat baik. Di bawah Antonio Conte, Tevez bermain lebih dekat dengan gawang, seolah sedang memainkan perang no.9 dan 10 secara bersamaan. Sementara di bawah Allegri, Tevez diberi kebebasan untuk berkreasi di mana pun ia merasa nyaman, maka kita melihat sosok Tevez yang sesungguhnya, murni no.10. Yang menarik adalah dibawah kedua pelatih, Tevez tetap menunjukkan determinasi dan grinta yang sangat tinggi. Tidak jarang kita melihat Tevez melakukan pressing, seolah memiliki 2 Arturo Vidal. (well, memiliki Vidal pun seolah memiliki 2 Tevez).

Diantara segala aksi yang krusial, yang paling berkesan adalah Tendangan Bebasnya, Gol melawan Dortmund, dan tentu saja, solo run melawan Parma.

Gol yang sangat langka di Serie A
Tevez stats with Juve:
2 Scudetti 

1 Coppa Italia
1 Super Coppa Italiana
50 goals, 16 assists

Kepergian Tevez ke Boca membuktikan kepribadian yang dimiliki Tevez sangat mengagumkan. Dengan kemampuan dan daya tarik yang masih sangat baik, Tevez setidaknya masih bisa bermain 2-3 tahun di level tertinggi. Atau Tevez masih punya banyak waktu untuk mengumpulkan pundi-pundi dari Arab atau Amerika. Tetapi Tevez memilih untuk kembali ke Boca, membuktikan rasa rindunya pada tanah air bukanlah isapan jempol belaka. AD10S TEVEZ!!



Andrea Pirlo



Walau banyak yang memuji langkah Juve di awal merekrut Pirlo, beberapa orang justru menyambutnya dengan pesimisme. Banyak yang beranggapan dia telah habis karena "latah" dengan pandangan A.C.Milan kepadanya. Saya sendiri sangat antusias karena saya sangat mengikuti permainan Pirlo di A.C.Milan. Ya, walaupun seorang Juventini, saya pada saat itu sangat sering menyaksikan klub lain di Serie A, terasa lebih nikmat daripada menonton liga lain, bagi saya pribadi.

Pirlo superpass to Marchisio
Kesan Pertama yang diberikan Pirlo kepada Juve adalah sebuah superpass kepada Marchisio, yang dituntaskan Marchisio dengan tidak kalah cantiknya. Dimulai saat itu, begitu banyak sekali passing serupa yang kita saksikan di sepanjang karir Pirlo di Juventus. Salah satu "pelanggan" Pirlo adalah Lichtsteiner, saking seringnya hingga diabadikan dalam sebuah video yang menurut saya cukup menggelitik.



Pirlo Stats with Juve:
4 Scudetto
1 Coppa Italia
2 Suppercoppa Italiana
164 Penampilan, 19 Goals
so many lovable passes

Kesedihan terhadap kepergian Pirlo bagi saya pribadi lebih dipengaruhi oleh faktor emosional dan harapan Pirlo akan membantu Buffon mengangkat Liga Champion, diiringi rasa terima kasih yang begitu besar karena menjadi bagian krusial dalam kebangkitan Juventus. Secara teknis dan pengaruh transfer ini di lapangan, kita sebenarnya tidak perlu terlalu khawatir.
Kita sudah memiliki Marchisio yang terbukti bermain sangat baik selama Pirlo menepi. Ketakutan akan absennya melawan Dortmund ternyata tidak terbukti. Bahkan Marchisio menghadirkan peran yang mengubah permainan Juve, Juve bermain lebih cepat, lebih bertenaga, dan bertahan lebih baik. Bahkan saya memiliki sebuah keyakinan, (tanpa mengurangi rasa hormat pada Pirlo) jika di final CL melawan Barcelona yang bermain adalah Marchisio-Vidal-Pogba, mungkin akan menghadirkan hasil yang berbeda. Selain itu Marotta sudah menghadirkan Khedira, opsi regista yang lebih defensif dan lebih berperan sebagai jangkar pertahanan.
Pirlo sendiri tampaknya sangat menyadari hal ini. Dia pasti sudah memiliki bayangan akan berbagi tempat dengan Marchisio di musim depan, dan bagi seorang Chuck... maksud saya Pirlo, tentu hal ini sangat sulit diterima.

Dari interview Marotta beberapa hari yang lalu, tampaknya klub sudah menyadari atau mungkin sudah diberikan tanda kepergian mereka. Itulah mengapa Marotta tidak membuang waktu menghadirkan Dybala dan Khedira, sebuah precaution, sambil berharap Pirlo dan Tevez akan mengubah fikiran mereka.

Masih saya temui beberapa Juventini yang menyalahkan Agnelli, Marotta, dan manajemen atas kepergian mereka berdua. Saya memandang ini adalah keputusan murni dari para pemain, dan Juve terkenal sangat demokratis terhadap pemain kuncinya dalam hal transfer. Like Beppe always said "jika pemain bahagia di Juve, mereka tidak akan pindah ke klub lain".

Arrivederci Pirlo! Ad10s Tevez!! GRAZIE!!

Dear Juventini, don't worry, Juve already purchased a great player:



Sabtu, 20 Juni 2015

Long Live King Arturo Vidal!!

Pemain Juve yang paling saya cintai sepanjang masa adalah Alessandro Del Piero. Sedangkan saat ini, di atas kegemilangan Pogba, kejeniusan Pirlo, ketampanan Morata, saya justru paling memuja keganasan ARTURO VIDAL. 
Saat ini Vidal sedang menjalani turnamen Copa America bersama Chile. Saya melihat peluang Vidal bersama Chile dapat melangkah jauh di Copa America. Chile, bersama Argentina dan Uruguay menurut saya adalah peserta yang paling berpeluang menjuarai Copa America.
Melalui tulisan ini, semoga kemudian sore ini anda yang non juventini bisa berbuka puasa dengan semangkok kolak tanpa rasa heran mengapa Juventini bisa begitu mengagumi pria yang satu ini.

a Souvenir from J Stadium tour


Vidal, jauh dari kesan flamboyan atau mewah. Jika pada suatu kesempatan anda berjumpa dengan wanita yang menyukai permainannya, mungkin wanita itu sedang kehilangan kodratnya, atau penalarannya memang spesial.

Conte dan Buffon pernah berkata "jika aku akan berperang, maka dialah yang akan pertama kali kubawa". Julukan il Guerriero (the warrior) tidak diberikan secara main-main dan tanpa alasan.

Kemampuan teknis serangan Vidal juga di atas rata-rata, musim lalu ia banyak bermain sebagai trequartista untuk mengisi kekosongan stok trequartista murni di squad Juve. Trequartista yang dihadirkannya bukanlah trequartista seperti yang anda kenal, dia memainkan peran trequartista layaknya campuran seorang carilleros, mezzala, bahkan libero sekaligus. Ketika bermain di posisi terbaiknya, Vidal adalah gelandang box to box terbaik saat ini. Mari kita simak beberapa statistik berikut;

"player has no significat weaknesses" ha! -whoscored.com

silahkan cek di whoscored.com untuk lengkapnya

Everybody want him in their club


Sayangnya Vidal justru lengket di pikiran non juventini sebagai seorang "brengsek, culas, kasar", mereka lebih suka menyimpan memori Vidal yang menendang tanah ketika melawan Madrid, menjegal kasar pemain Barcelona, dan baru-baru ini, kecelakaan yang bisa saja merenggut nyawa keluarganya sendiri dan sempat mengeluarkan statement angkuh mengenai Chile yang akan hancur tanpanya jika dia ditangkap. Semua kejadian tersebut terjadi karena dia mengemudi dalam kondisi mabuk setelah meninggalkan sebuah casino. 

Well, jika hal ini justru menjadi "main point" dalam menilai Vidal, sudah seperti ibu-ibu yang menonton sinetron saja, suka main hakim sendiri dan harus ada antagonis-protagonisnya :)))

Begini, Saya coba beberkan 6 fakta sederhana:

1. Vidal adalah Box to Box midfielder terbaik saat ini


2. Vidal adalah seorang juara, seorang petarung, dengan berbagai medali dan trofi yang sudah diraihnya.


3. Vidal bersama Pogba adalah the Most Wanted transfers commodities, sampe bosan Juventini baca beritanya.


4. Vidal adalah tipikal pemain yang anda cintai jika ia bermain untuk timmu, tapi akan kamu benci jika ia bermain sebagai lawanmu. Dia bukan seperti Zidane, Del Piero, Pirlo yang flamboyan dan lovable-licious.


5. Vidal adalah seorang gelandang box to box terbaik, seorang juara, seorang most wanted, seorang yang "love to be hated"-able, namun juga seorang manusia, seorang pemain sepakbola dengan berbagai godaan gaya hidup glamor yang juga dialami banyak bintang. Tapi setelah kesalahannya kemarin dan sadar dari pengaruh alkohol ia berkata "ini semua salah saya, saya telah membuat istri saya dan banyak orang dalam kondisi bahaya", mengakui kesalahannya dan membayar dengan penampilan luar biasa untuk Chile pagi tadi (20 Juni 2015).



6. Memanfaatkan momentum ini untuk mendeskriditkan Vidal, tidak membuat 5 fakta di atas terhapuskan, dan tidak menaikkan derajat klub anda ke posisi yang lebih baik lagi. Hahahahaha



Mohon maaf lahir dan Batin
Arturo Vidal Ale! Arturo Vidal Ale! Arturo! Arturo! Arturo! Arturo! Arturo Vidal Ale!!!

Febrila Arifpraja

*semua foto dan statistik di atas adalah bukan hak milik saya, klik for the original url




Jumat, 19 Juni 2015

Benvenuto Mandzukic?


iseng-iseng menyambut kedatangan si raksasa "bengal"

Mandzukic adalah pemain yang akan kamu benci jika ia adalah lawanmu, tapi akan kamu cintai jika ia bermain untuk timmu. Itu adalah kesan yang saya dapatkan selama menyaksikan permainannya ketika melawan Juventus, juga ketika Kroasia melawan Italia. Seperti berjodoh, Mandzukic sering sekali berduel melawan Chiellini, Bonucci, Buffon, dkk. Entah itu di Bayern Muenchen, Atletico Madrid, ataupun di timnas Kroasia. Terakhir Mandzukic "membuat" Buffon menepi karena cidera.

Mandzukic adalah pemain yang memiliki postur seperti Llorente, sehingga beberapa Juventini menganggap ini tak lebih dari sekedar menambah stok Target Man. Tapi pemikiran seperti itu (menurut saya) sangat salah, karena mereka berdua sangat bertolak belakang dalam hal sifat dan gaya bermain.

Great skills and grinta
Jika Llorente terlibat dalam banyak post play dan possession, Mandzukic bisa bermain layaknya seorang "number 9" juga memiliki skill dan kecepatan yang lebih baik untuk membangun serangan. Lalu, jika Llorente adalah seorang gentle giant, sedangkan Mandzukic adalah seorang "mad giant". Bisa kita lihat dari gif di atas, 8 detik yang sangat merepresentasikannya (gif adalah olahan saya sendiri dari video youtube). Sedangkan persamaan dari Llorente dan Mandzukic, keduanya memiliki heading yang sangat baik, bisa dikatakan mereka adalah 2 dari yang terbaik. Mari kita lihat beberapa statistik di bawah;
Whoscored.com

Football Manager 2015 stats
Kedua statistik dari whoscored dan FM 2015 saya rasa sudah sangat menjelaskan bagaimana kemampuan Mandzukic. Mengutip dari Football Manager mungkin terlihat tidak profesional, tapi hei! saya tidak mencoba menjadi seorang profesional. Kita juga harus mengakui, seorang FM lovers pasti tahu betul bagaimana kemampuan scouts dari FM kan ;). Lagipula site sekelas Squawka.com justru sering mengupas statistik dari game sepakbola FIFA. Hahahaha.

Jadi apakah Mandzukic adalah pengganti Tevez yang ideal? Pertama, Tevez tidak tergantikan, perannya sebagai seorang nomor 10 telah membuat kita mulai "move on" dari pemilik no.10 sebelumnya. Walaupun kehadirannya di Juventus Stadium sangat singkat, tapi Tevez telah memberikan kita kesan yang sangat mendalam melalui gol-gol yang hadir dalam waktu yang tepat.

Kedua, mungkin kita sering lupa kita masih punya Morata dan Dybala, masih ada Berardi dan Zaza yang akan ditentukan nasibnya musim depan. Ketiga, sepertinya Marotta belum berniat berhenti berbelanja pemain. Terakhir kali, Allegri dengan gamblang menyebut ia butuh seorang trequartista, sambil menyebut nama-nama seperti Oscar, Isco, Pastore, dll.
 PS: Mandzukic adalah seorang juara Liga Champion, seperti Khedira, apakah ini sebuah clue dari Marotta tentang target Juve musim depan?

So, Benvenuto Mandzukic?

Febrila Arifpraja
@febrillanna


Kamis, 18 Juni 2015

Marhaban ya Ramadhan

Tidak terasa Ramadhan telah menghampiri kita kembali. Ramadhan dalam kenangan saya semasa "muda"(bujangan,red) dulu adalah menanti sahur sambil menonton sepakbola. Yah, lumayan tahun ini kita bisa menyaksikan Copa America & Euro U-21. Tapi sekarang saya sudah tidak lagi begadang untuk menanti sahur, sudah ada si kecil yang harus dijaga siaga pagi-siang-malam, jadi biasanya tengah malam sudah tepar sendiri.
Marhaban ya Ramadhan, Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1436H, Mohon maaf lahir dan batin.


Chasing Juve: Part 2 (Singapore)

Part 2/2: Singapore

Untuk warga Pekanbaru seperti saya, Singapore memang jauh lebih terjangkau dan singkat dibandingkan ke Jakarta. Kita bisa naik pesawat menuju Batam, lalu tinggal menyebrang menggunakan Ferry via harbourbay ke Singapore.
Perjalanan ke Singapore kali ini saya bersama istri, adik tengah saya (eta) dan ketua Indojuve Pekanbaru (Husni).

Ferry Harbourbay Batam-Harbourfront Singapore

Husni, Ketua Indojuve Pekanbaru; Bintang utama

My 2nd brother, Eta

my wife
 Di Singapore, hype Juventus tidak begitu terasa. Singapore masih seperti biasanya, sibuk, teratur dan seperti tidak ada yang spesial. Berbeda dengan Jakarta, begitu sampai di bandara, sudah terlihat orang-orang berjersey hitam-putih. Begitu sampai di Singapore, kami langsung menggunakan mrt untuk menuju ke hotel di daerah kallang. Hotelnya lumayan dekat dengan kompleks Stadium, jadi kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Dalam perjalanan, kami bertemu dengan beberapa orang Indonesia yang menanyakan jalan pada kami, ternyata mereka berasal dari Makassar. Ya, bisa dikatakan mayoritas yang menonton di Singapore ternyata bukan Juventini dari Singapore. Penduduk Singapore yang menonton memang datang untuk mendukung timnasnya. Sedangkan Juventini sesungguhnya datang dari Indonesia, dan Malaysia. Rekan-rekan indojuve pusat juga sudah duluan mengadakan tur bersama ke Singapore, bakalan bertemu mas Vebbysung dan kawan-kawan lagi.

Husni & Juventini Malaysia

Indojuve (Juvekaskus) Pekanbaru

Pemain sangat nyaman menghampiri penonton
Kami menyaksikan sesi latihan di Singapore National Stadium pada sore hari (fyi: Juventus vs Singapore adalah pertandingan pertama di stadion yang baru ini). Memang tifosi di sini tak semilitan tifosi di Indonesia, bahkan chant paling lantang terdengar dari kursi rombongan Indojuve pusat (kami terpisah seat). Kami duduk di dekat tifosi Malaysia, sialnya ada oknum yang berteriak ke Husni yang sedang lincah kesana kemari "cuci piring, angkat kain", yah hubungan jelek Indonesia-Malaysia masih saja terbawa walau sudah di negeri orang. Beruntung kami tidak terpancing, dan akhirnya seiring waktu berjalan, kehangatan yang dibawa squad Juventus mencairkan suasana. Lihat saja husni sudah sempat berfoto bersama mereka (contoh yang baik, hahahaha).

Yang bikin saya sedikit terheran adalah ternyata ada sesi dimana pemain mendatangi penonton yang hadir. Mereka dengan antusias dan santai melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama. Semua pemain berpencar meladeni penonton, di bagian kami ada Emil Audero, Llorente, dan beberapa pemain lainnya (saya lupa pastinya). Saya terheran-heran, di Australia juga terlihat pemandangan yang sama, sementara di Indonesia? sudah bayar mahal malah gak boleh foto (cek part 1) hahahaha. Sebelum terlalu cepat menyalahkan promotor (yang tentunya tetap harus bisa perform lebih baik lagi), kita harus instropeksi pada diri sendiri. Ini adalah bukti bahwa image Indonesia di mata dunia, belum bisa memberikan kenyamanan bagi para pemain (secara umum: masyarakat dunia). Contohnya bawa petasan ketika di GBK, itu manfaatnya apa ya? saya yakin itu bukan Juventini yang sesungguhnya. Juventini akan "meledakkan" suasana dengan chant dan corinya, bukan dengan petasan dan semacamnya.

Llorente adalah pemain paling ramah dan gentle kepada fans, terlihat sejak di Indonesia.

Saya bayar jutaan rupiah untuk ini, dan tak bisa berfoto. Husni di Singapore dapet sign & foto, kesel gak?
FYI: baju ini akhirnya dilelang untuk amal yang ditaja Juve4care. Salut hus!
There yo go, the luckiest man on earth that day, Husni berhasil berfoto bersama Llorente dan mendapatkan tanda tangan beberapa pemain. Saya senyum-senyum pahit, karena dompet saya mulai bergetar lagi, mungkin mentertawakan saya (baca part 1).

Next day, akhirnya datang hari pertandingan antara Juventus vs Singapore. Karena laga baru dimulai sore-malam hari, kami memutuskan buat main-main ke Marina bay dulu. Sekalian melihat peluang untuk berkunjung ke Fullerton Hotel, tempat menginap rombongan Juve. Benar saja, ternyata sangat bebas dan tidak terlalu rame, kami pun memutuskan untuk hunting tanda tangan lagi!!

Singgah sebentar ke Marina Bay

Sebelum masuk ke bus, pemain-pemain Juve dengan santai meladeni penonton

 Setelah puas berfoto di Marina bay, di patung Merlion, dan lain sebagainya, kami pun bergerak ke Stadion. Akses menuju stadion sangat mudah dan terjangkau, bisa via MRT/Bus, (come on Indonesia, we can do more). Di stadion, kami mendapatkan seat di tepi lapangan, pemain Juventus bebas lalu lalang dan sangat ramah menyapa balik penonton. Husni masih saja berburu tanda tangan, korbannya kali ini Simone Pepe, sampai-sampai Pepe yang humoris itu pun kesal "lagi latihan bro!!" kira-kira itu jawabannya ke Husni. hahahahaha.

Kami mendapatkan seat di tepi lapangan, pas di tempat pemain Juventus melakukan pemanasan

Marchisio kharismatik sekali, padahal cuma lari...

Enjoying the game

Husni Masih saja berburu, hahahaha

Yang berbaju kuning di sana adalah rombongan Indojuve, suaranya memenuhi seisi stadion

Secara objektif saya katakan bahwa tur Juventus di Singapore lebih rapi, dan lebih hangat suasananya. Pemain lebih santai, pelaksaannya lebih siap dan terorganisir. Tapi Indonesia jauh lebih unggul untuk urusan antusiasme dan animo Juventini. Para pemain, dan rombongan Juventus lainnya mengakui bahwa memang Indonesia luar biasa. Bahkan para videographer official Juventus mengakui hal ini kepada kami secara langsung, ketika mereka tau bahwa kami dari Indonesia, dan rombongan Indojuve pusat yang tidak berhenti menyanyikan chant. Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala "wow, Indonesia" in a very slow motion.

Sebelum pulang, kami sempatkan berbelanja oleh-oleh di Mustafa centre, dan tentu saja mencari makanan halal untuk mengisi perut kami yang sudah kosong dan berbunyi. Perjalanan yang sangat berkesan, akhirnya proses mengejar Juventus selama tur di Indonesia & Singapore berakhir. Thanks Juve, you've bring so much happiness.

Chasing Juve, The End.

Febrila Arifpraja
@febrillanna

A nice jourrney

Ciao!