Minggu, 22 Januari 2017

Logo Baru Juventus (2017)



JELEK...

Itu kesan pertama yang langsung saya dapatkan.
Mungkin hasil Fiorentina vs Juve sangat mempengaruhi mood saya sehingga saya langsung berfikir skeptis.

Bahkan ketika malam sebelumnya ada berita tentang logo baru akan dilaunching, saya langsung skip saja karena firasat saya sudah gak enak. Maka saya putuskan untuk menjauhkan diri dari twitter dulu. Eh, teman saya -Om Trisna- ternyata sudah tag logo ini di Path, mungkin dia gak mau eneg sendirian. :D

Ya sudah saya buka twitter saja, wush! timeline saya saat itu sudah seperti post apocalypse. Terlalu banyak tragedi, satir, ironi-ironi, negativitas, mungkin 80% Juventini di twitter sudah satu fikiran tenggelam dalam kekecewaan. Yang 20% lagi gak tau apa emang benar-benar suka, karena emang dasarnya hipster, suka bikin antitesa, atau sekedar menghibur diri.

Kira-kira 3 jam setelah itu keadaan mulai membaik. Ada beberapa yang mulai mengupas sisi positif, ada yang mulai mencoba mengerti visi Agnelli cs, ada juga yang mencoba membangun mesin waktu untuk mencoba membatalkan launching logo tadi (mending kalian batalkan transfer Vidal saja).

Sebelumnya setelah puas eneg-eneg an, saya memang sudah memahami maksud Agnelli cs. Mereka ingin melakukan revolusi dengan menjadi yang pertama mengusung konsep seminimalis dan sefuturistik mungkin. Untuk satu poin itu sudah saya coba pahami terlebih dahulu, lalu saya coba mempelajari poin-poin selanjutnya.

Ada sebuah artikel yang sangat bagus, bahkan bisa menjadi referensi terbaik sementara ini.

Beberapa poin penting dari web tersebut:
Konsep dasar
Perbandingan dengan logo-logo sebelumnya
Perbandingan dengan logo klub Serie A lainnya

Semakin baik ketika kita melihat pengaplikasiannya di dalam berbagai media berbeda:



Terutama setelah pihak Juventus menegaskan bahwa logo ini akan menjadi lebih universal sehingga mempermudah ekspansi ke berbagai industri, bukan hanya sepakbola. Terutama dalam branding properti-properti Juventus, merchandise, hingga fashion.

The only good news that day, Emrata!
Setelah membaca artikel tersebut dan banyak artikel lainnya, saya semakin terbuka dan mengapresiasi langkah REVOLUSIONER yang dilakukan oleh Agnelli. Langkah ini menjadikan Juventus sebagai tim besar pertama yang melakukan perubahan logo futuristik, setidaknya dalam sepakbola karena beberapa bidang olahraga lain sudah lebih dahulu (softball misalnya).

Tetapi jujur secara pribadi saya merasa logo ini masih memiliki kekurangan estetika desain yang baik, komposisinya terasa masih timpang dan berat sebelah. Dengan dana yang cukup besar untuk logo ini, rasanya Juve masih bisa menciptakan logo yang lebih baik namun tetap bernuansa (J) dan futuristik.

Sebagai Juventini, mendukung tim adalah keharusan, siapapun tidak perlu mengajarkan Juventini bagaimana menjadi fans yang loyal, itu sama seperti mengajarkan ikan caranya berenang. Pujilah di saat yang tepat, kritik pun harus juga diberikan di saat kesalahan muncul, agar klub ini selalu sehat. Sebut saja keputusan mempertahankan Sturaro sebagai pengganti peran Vidal, tanpa membeli gelandang setipe selama beberapa bursa. Walaupun sekarang sudah ada Rincon, tetapi kalau Juve masih ingin merebut UCL, Juve harus berinvestasi pada setidaknya 1 gelandang kelas dunia.

Sekali lagi, saya pribadi sangat mengapresiasi visi Agnelli cs yang sangat jauh di depan klub sepakbola di Italia, bahkan dunia. Bangga rasanya memiliki seorang pemimpin yang sangat cerdas, muda, berdedikasi, menjaga kultur Italia (ketika kompatriotnya disilaukan uang China). Bisa dibilang Andrea Agnelli adalah sosok ideal presiden sebuah klub sepakbola, berhasil mempertahankan tradisi juara sekaligus tradisi trah keluarganya.

.
.
.
.
.
.
.

Tetapi logo ini memang Jelek

tetap #forzaJuve



Sabtu, 03 Desember 2016

ATALANTA Sensation

Malam ini Juventus akan menjamu tim biru hitam bernama Atalanta

Sepertinya momen ini datang kurang tepat, Juventus harus menghadapi tim dengan tren paling positif di 5 pertandingan terakhir, ketika Juventus sendiri sedang dalam tren terburuknya musim ini.

Tidak bisa dibantah, badai cidera memang telah menggerogoti proses intregasi Juve musim ini, Juventus hanya bisa turun dengan kekuatan penuh di 2-3 laga saja.

Atalanta musim ini disamakan dengan Leicester City, seekor kuda hitam yang memainkan sepakbola cepat dan bertenaga. Bintang mereka musim ini adalah Franck Kessie, wonderkid asal pantai gading yang memulai karirnya sebagai seorang defender/jangkar, lalu bertransformasi menjadi seorang gelandang box to box yang musim ini cukup tampil mencolok. Karena selain menjadi poros pertahanan di lini tengah, Kessie juga sering mencetak gol & assist.






Namun sebenarnya Atalanta bukan hanya Kessie seorang, ada nama-nama kokoh di jantung pertahanan seperti Masiello, Berisha & Caldara. Kessie & Caldara sendiri tampaknya sudah masuk dalam radar Juventus, Caldara bahkan digadang-gadangkan sebagai penerus dari Andrea Barzagli, setidaknya itu menurut Direktur Olahraga Cesena, Rino Foschi, yang berjasa dalam mengorbitkan karir Kessie & Caldara.



Selain terus memantau Kessie & Caldara lewat youtube, saya juga berkesempatan menonton penuh laga Atalanta vs Roma. Laga ini sangat menarik karena Atalanta tampil selayaknya sebuah tim yang pantas memperebutkan scudetto. Roma sangat beruntung hanya kalah 2-1 pada malam itu.
Pertahanan yang kokoh Atalanta dijadikan pelatih mereka, Gasperini, sebagai pondasi yang baik untuk memainkan sepakbola cepat mengandalkan umpan cepat & serangan balik. Serangan balik mereka sangat berbahaya karena dibangun oleh 2 sayap jago dribble yang menurut saya adalah diantara yang tercepat di Serie A; Alejandro Gomez & Marco D'Alessandro. Ada juga Conti, Gagliardini & Kurtic yang belakangan juga ikut tampil sangat impresif. Menariknya lagi, Atalanta saat ini memiliki pemain-pemain muda yang sangat potensial. Sebut saja Filipo Melegoni atau Fabio Castellano yang sudah menarik perhatian scout-scout di Italia.

Juventus vs Atalanta


http://www.transfermarkt.com/juventus-turin/sperrenundverletzungen/verein/506

Juventus yang sedang terluka pasti akan kerepotan menghadapi kecepatan Atalanta. Lini depan pun dijamin kesulitan membongkar pertahanan karena kreativitas serangan Juve turut memudar seiring cideranya Dybala, dan terisolasinya Pjanic di lini tengah. Bermain di kandang  harus mampu dimanfaatkan oleh Juve dengan baik. Juve harus meraih gol cepat untuk menghancurkan kepercayaan diri Atalanta. Jika Juve terlalu lama menggempur Atalanta seperti serangan dalam 3 pertandingan terakhir (sangat sporadis & seperti tidak memiliki komando) lalu terpancing bermain terlalu ke depan, maka bersiaplah menerima serangan balik cepat dari Atalanta.
Prediksi line up Juve-Atalanta. Licht/Rugani

Catatan teknis paling mencolok dari Juve musim ini adalah:
1. Terlalu mengandalkan crossing dari sayap, beruntung musim ini Alex Sandro bermain layaknya sebuah mesin yang sama baiknya ketika menyerang atau bertahan. Sementara sayap kanan terlalu ofensif ketika memainkan Cuadrado, atau terlalu defensif ketika memainkan Lichtsteiner. Daniel Alves masih terlalu terobsesi bermain "fancy" dan belum terlihat peran signifikan untuk tim.
2. Juve kehilangan pematah serangan, gelandang angkut air, jangkar, apa pun itu namanya. Pjanic tidak cukup kuat (memang perannya ofensif), Khedira justru optimal di depan, Marchisio belum sembuh benar. Hal ini membuat serangan lawan terlalu sering mendekati gawang Juve, jarang ada tekel akurat di lini tengah. Jangan buat saya menyebutkan nama Sturaro, saya sedang tidak ingin mengumbar sumpah serapah.

Saya yakin dengan kondisi seperti saat ini, Marotta cs sudah mempersiapkan banyak strategi menyambut bulan Januari. Jika tidak berbenah, mungkin musim ini akan terasa sangat berat bagi para Juventini.

Ini bukan titik terendah Juve dalam beberapa musim terakhir, tetapi jika tidak direspon dengan tepat, ini bisa jadi titik awal dari hal-hal yang buruk untuk musim ini.
Tetapi Juve adalah Juve, terutama Juve yang sedang terluka biasanya langsung menunjukkan respon seorang juara. Apapun itu, kita akan terus mendukung tim kita, yaah sedikit rants wajarlah karena Seperti yang diajarkan Boniperti Vincere non è importante è l'unica cosa che conta”
#FORZAJUVE



GIGIO

Berdebu & banyak sarang laba-labanya...
Kira2 begitulah keadaan blog ini...

Padahal ada banyak hal menarik yg bisa dikupas di musim ini, musim penuh ketidakpastian & kebimbangan...

Ya sudah untuk pemanasan, saya hadiahkan sebuah foto editan, foto yg sempat bikin saya dikeroyok netizen Milanisti, hehehe.



Ya, saya se-ngarep itu Gigio suatu saat akan melanjutkan tahta Gigi sebagai portiere utama di Juventus. Seharusnya juga Milanisti tidak perlu marah, karena ini bukti bahwa Gigio Donnarumma memang seorang pemain yang diperhitungkan bahkan diidamkan rival.
Jika loyalitasnya memang sebaik yang disampaikan saudaranya kepada Milan, maka saya akan semakin salut dan jatuh cinta pada pemain ini.

Tapi memang ada beberapa alasan bagi para Juventini jadi berani bermimpi tentang Gigio, karena ada beberapa faktor yang sulit dibantah:
1. Agen si Donnarumma adalah si "you know who"
Pogba sudah jadi contoh kasus ke sekian setelah Ibra, Balo, dan lain-lain. Mungkin hanya Nedved pemain kelas dunia yang tidak terbujuk rayunya si Mino Raiola.
2. Milan dalam keadaan ekonomi yang kurang baik, tampaknya investasi dari konsorsium China juga sedikit bermasalah.
3. Higuain buy out clause
Saya sendiri dari dulu percaya Juve punya cashflow yang sangat mumpuni untuk belanja besar, makanya kadang saya kesal sendiri melihat manajemen yang terlalu resik dan berhati-hati dalam melakukan investasi besar. Terbukti ketika peluang ada, Juve tidak segan menebus buy out clause besar yang dipatok Napoli.

Ya begitulah...
Tetapi jadi pemain Juve atau tidak, Gigio memang layak diberi apresiasi tinggi. Dengan konsistensi, kedisiplinan, pembinaan yang tepat, karirnya bisa sangat cemerlang. Mungkin bisa berada di level yang sama dengan Gianluigi Buffon, apalagi Donnarumma terlihat sudah mengantongi modal kematangan mental & attitude.

Selasa, 27 Oktober 2015

JATI DIRI

Lumayan lama tidak menyentuh blog yang satu ini, padahal ada banyak hal yang menarik untuk didiskusikan dari Juventus di musim ini. Anak, tesis, kerjaan, sampai ke asap jadi beberapa alasan yang lumayan mengganggu ke-Juventini-an saya beberapa waktu belakangan, bahkan belakangan sudah tidak pernah nobar, malahan sering telat nonton Juve (Juve-Atalanta join di menit 40). Ya, jati diri saya sebagai Juventini sedang diuji :))

Berbicara tentang jati diri, kurang lebih itulah permasalahan utama Juventus di Musim ini. Ditinggalkan banyak pemain penting (yeah), pemain kunci dilanda cidera, Pogba yang dibebani no.10, hingga striker kita (yang sebenarnya cukup mentereng) yang seperti kehilangan magis di klub lamanya. Semuanya berkaitan dengan pencarian jati diri, entah itu jati diri sang pemain dalam perannya di permainan Juve, maupun jati diri permainan Juve itu sendiri.

Cukup lama coach Allegri bongkar pasang formasi dan susunan pemain hingga akhirnya ditemukan pakem yang pas. Untungnya proses pencarian Jati Diri tadi justru mengantarkan pemain Juve menjadi memiliki kekayaan strategi, yaitu kemampuan mereka mengubah formasi dari 3-5-2 menjadi 4-3-3 dalam satu pertandingan tanpa perlu pergantian pemain. Plus, Juve-Atalanta kemarin menunjukkan Juve juga mampu memainkan 4-3-1-2 kapanpun Juve membutuhkan.

Juve's Fluid Formation in Recent Games

Kembalinya Khedira dan Marchisio menjadi titik balik kebangkitan Juventus, lini tengah menjadi lebih stabil, konsisten, dan "mature". Pogba terlihat lebih composed ketika didampingi Khedira & Marchisio, walau terkadang masih terlihat beberapa trik yang tidak perlu. Khedira di satu sisi berhasil menampilkan sebuah permainan yang efektif dan penuh konsentrasi, secara personal saya melihat kita seperti memiliki "Barzagli di lini tengah". Ya, seperti Barzagli, Khedira jauh dari spotlight, bermain ringkas dengan umpan-umpan pendek, sederhana, namun sangat jarang melakukan kesalahan, dan hampir selalu memenangi duel-duel ketika dibutuhkan.

Berbicara tentang Barzagli, teman-teman di twitter pasti mengenal saya sebagai pengagum Barzagli (dan Vidal) di squad Juve era Conte-Allegri. Namun sungguh saya tidak pernah menyangka Barzagli mampu memainkan peran "siluman" sebagai bek kanan. Beberapa kali ia malah menunjukkan penetrasi layaknya seorang wingback muda, lalu umpan-umpan panjang seperti Pirlo untuk menemani pergerakan Cuadrado, Tentu saja kehadirannya dimaksudkan untuk memberi Cuadrado keleluasaan untuk membawa bola dan memimpin serangan tanpa perlu khawatir berbuat kesalahan. Barzagli selalu siap "cleaning his mess" atau bahkan membantu serangan. Watch out Lichtsteiner! :D

JUVE VS ATALANTA

Banyak rilisan media yang meramalkan Juve akan melakukan rotasi di pertandingan ini, walau tidak sesignifikan yang diramalkan media, Allegri terbukti melakukan beberapa perubahan. Diantaranya adalan memainkan formasi 4-1-2-1-2 dengan Pereyra sebagai trequarista. Namun setelah Pereyra cidera, Allegri memainkan Asamoah, sehingga bisa kita lihat Pogba bermain sebagai no 10 murni.

Juve vs Atalanta
Dalam beberapa pertandingan saya seringkali kesal pada sikap Pogba yang kadang terlalu demanding, melakukan beberapa trik, lalu rekan setimnya sendiri justru kebingungan. Setelah triknya gagal dimengertu (bahkan oleh saya penonton yang bisa melihat lapangan lebih luas), Pogba biasanya mengomel sendiri dan kadang terlihat mencak-mencak. Saya selalu berfikir WTH POGBA!! it is your own mess!!.

Dalam pertandingan Juve vs Atalanta Allegri akhirnya memberikan Dybala kesempatan untuk bermain sejak awal. Di sini saya menyadari ternyata kekesalan Pogba di game-game sebelumnya cukup beralasan, trik-trik dan passing-passing ajaib Pogba mampu dimengerti dan diolah oleh Dybala, seseorang yang punya level teknik yang sama dengannya. Imajinasi Pogba gagal dipahami oleh Mandzukic, Zaza, bahkan Morata, namun bisa dicerna dengan baik oleh Dybala, seolah mereka sudah bertandem selama 3 tahun.

videos from @ADP1113


Walau Juventus telah menemukan pola dan peran pemain yang tepat, tapi Juventus masih membutuhkan waktu untuk benar-benar melebur menjadi sebuah tim. Terutama pakem di lini depan yang masih membingungkan, atau bisa jadi Allegri memang sengaja menciptakan lini serang tanpa pakem yang pasti. Mungkin ketika kita melawan defender relatif lambat, kita bisa memaksimalkan pace dari Morata. Ketika ingin mengeksploitasi lawan dengan antisipasi udara yang jelek, kita memainkan Mandzukic. Atau opsi lebih agresif pada diri Simone Zaza, entahlah. Tetapi satu hal yang menurut saya harus dilakukan, kita harus memusatkan serangan pada Dybala-Pogba, biarkan mereka tumbuh sebagai pivot dari tim ini. Kompensasinya adalah inkonsistensi karena mereka masih sangat muda, tetapi itu adalah perjudian terbaik saat ini. Dalam proses tersebut kita juga masih bisa mengandalkan penetrasi Cuadrado, atau sprint-sprint serta placing shots dari Morata.

Jati diri baru dari Juventus pasca Tevez-Vidal-Pirlo perlahan mulai ditemukan. Juventus musim ini telah berganti menjadi tim yang bermain dengan kecepatan dan teknik yang sangat tinggi. Mulai mengeksploitasi sisi sayap yang lama terabaikan, serta kebebasan individual yang lebih sering ditonjolkan. Ini adalah sebuah formula yang sangat jarang digunakan Juventus, karena formula ini memang sering gagal di Serie A yang sangat taktis dan posisi bek lebih dalam dari liga lainnya. Sisi positifnya? lihat bagaimana performa Juve di Liga Champions, di sini seluruh tim bermain lebih terbuka, sehingga kelebihan Juve musim ini lebih mendapat ruang. Seperti yang sering saya bahas di twitter, kebanyakan Juara Liga Champions bermain menggunakan 4-3-3 dengan wingback agresif yang sering membantu serangan dan para winger yang melakukan penetrasi ke kotak penalti. Wait... Is this Juve were meant to build for...

FORZA JUVE!!!

Kamis, 20 Agustus 2015

Benvenuto Alex Sandro



Rumor Siqueira begitu deras di bursa transfer musim ini, banyak sumber kompak mengatakan bahwa transfer ini hanya menunggu fase terakhir, tanda tangan & tes medis. Medengar hal ini sudah sangat membuat Juventini berbahagia, karena Juve memang membutuhkan sebuah opsi yang lebih segar di posisi bek sayap, khususnya di sisi kiri dimana Evra sudah cukup berusia dan Asamoah akan diplot untuk bermain sebagai gelandang tengah.

Juve memang memiliki sosok wingback yang solid di diri Evra dan Lichtsteiner, opsi pemain lapis pun sudah cukup memuaskan dengan adanya Simone Padoin (no joke). Tapi Juve membutuhkan opsi wingback yang lebih ofensif dan eksplosif, opsi ini terutama dalam hal penetrasi serangan serta crossing yang masih belum maksimal di squad Juve musim lalu.

Ternyata bukan Siqueira yang datang, melainkan seorang wonderkid (or an ex wonderkid) yang sudah lama mencuri perhatian klub-klub besar, Alex Sandro! Analisa saya pribadi, tawaran terhadap Siqueira memang benar adanya, namun pada saat fase-fase krusial, beredar info bahwa Alex Sandro menolak untuk memperpanjang kontraknya yang akan segera habis. Ini menjadi turning point bagi Marotta dan timnya, terutama setelah Manchester City datang dengan penawaran yang lebih rendah dari penawaran awal Juve. Beppe langsung bergerak cepat menawar dengan harga tinggi walau sisa kontraknya tinggal sedikit lagi, pola ini mengingatkan kita pada transfer Vidal dari Leverkusen. Marotta pagi tadi dalam interviewnya mengatakan bahwa harga tersebut pantas untuk sebuah investasi yang bagus.

Dengan datangnya Alex Sandro, Juve memiliki pilihan seorang wingback yang mampu memenangkan pertandingan 1 lawan 1 dengan dribble dan tekniknya. Crossingnya juga cukup bagus, setidaknya lebih bagus dari Evra atau stok wingback lainnya. Hal ini sangat diperlukan karena di musim-musim yang lalu Juve bisa dibilang menyia-nyiakan potensi Llorente yang jago di udara, terlihat ketika tersudut barulah Allegri memasukkan Pepe atau menaikkan posisi Lichtsteiner untuk menyupplai Llorente, dan beberapa kali terbukti efektif. Musim ini kita memiliki Mandzukic dan Zaza yang memiliki kemampuan untuk memanfaatkan crossing, mudah-mudahan Juve bisa memaksimalkan hal ini.

Berikut beberapa statistik Alex Sandro

stats from Football Manager (admit it, they have great scouts, no joke)

no serious injuries so far, important fact for Juve

perfomance stats, check the details on transfermarkt.com
Stats from transfermarkt.com




Kita cukup terkejut dengan kehadiran Alex Sandro, namun ini merupakan sinyal bahwa Beppe Marotta tidak akan segan-segan bergerak cepat ketika peluang yang baik muncul, walau harus merogoh kocek dalam. Well another signing Beppe? a Trequartista? a def.mid? a regista? can't wait.

Benvenuto Alex Sandro!!!




Jumat, 07 Agustus 2015

Persiapan Awal Musim Juventus



Juventus musim ini mengalami sebuah revolusi yang cukup besar. Kepergian Vidal seperti petir di siang bolong bagi Juventini, di twitter saya jelaskan bahwa saya percaya kepindahan ini adalah sebuah "reaksi" atas suatu kejadian yang kita tak akan ketahui pasti setidaknya beberapa musim ke depan. Terlihat bagaimana Marotta berbicara di interview beberapa hari belakangan tentang kepergian Pirlo dan Tevez, tapi tidak mengenai Vidal.



Saya pribadi berpendapat Vidal sengaja "points out" motif juara UCL sebagai alasan kepindahannya ke Muenchen, sebagai ghost-statement kekecewaannya terhadap manajemen Juve yang gagal menunjukkan ambisi UCL setelah "merelakan Tevez & Pirlo". Untuk detail analisa bisa dicek di twit saja di tanggal 28 Juli. @febrillanna


Pencapaian Marotta dan Paratici membuat banyak fans justru menyalahkan Vidal dan yakin bahwa manajemen akan berbuat sesuatu yang terbaik, seperti yang sudah-sudah. Ya, tak ada pemain yang lebih besar dari Juventus itu sendiri, begitu Agnelli mengajarkan kita. Kita juga sudah terlalu sering dibungkam oleh pembuktian Marotta, kita pun mulai tidak berani mengkritik pergerakannya :D

Laga Persahabatan

Hasil pramusim sejauh ini cukup mengecewakan, seperti musim yang sudah-sudah. Tapi salah jika kita menyamakan pramusim kali ini dengan pramusim-pramusim sebelumnya, ada perbedaan yang sangat mencolok; permainan Juve tidak meyakinkan.

Jika di pramusim-pramusim lalu Juve gagal mencapai hasil skor yang baik, tetapi di lapangan kita memainkan sepakbola yang teratur dan terintegrasi pada sistem yang baik. Hasil buruk dikarenakan banyak pemain kunci yang masih beristirahat pasca turnamen internasional. Permainan Juve terlihat masih sangat connected walau pemain terlihat membatasi determinasi dan agresifitas.

Di pramusim 2015/2016 Juve benar-benar terlihat kehilangan daya gedor atau setidaknya sebuah pakem yang bisa diandalkan.
Melawan Dortmund sangat tidak adil untuk menghakimi Juve, karena Dortmund sudah memainkan laga persahabatan 4 kali, sementara Juve baru kali pertama.
Melawan Lechia mulai terlihat serangan Juve memang dibangun "asal-asalan", terbukti gol pertama Juve hadir melalui sebuah corner, gol kedua memang lahir dari open play, tapi open play yang instant, sebuah early cross yang diolah Mandzukic secara individual.
Melawan Marseille kelemahan Juve makin kelihatan, Juve benar-benar kehilangan poros serangan, kehilangan salah satu dari Pirlo, Tevez atau Vidal mungkin masih bisa diatasi. Tapi juve kali ini kehilangan ketiganya sekaligus, sedangkan musim-musim lalu mereka bertiga adalah poros 80% serangan Juve. Di pertengahan laga, beberapa pemain Juve justru terlihat seperti "lose their head", ya memang peforma wasit dan permainan keras Marseille cukup berpengaruh juga. Catatan positif dari laga ini adalah sang #Pogba10 yang tampil luar biasa.

Someone to rely on, hope it won't be a burden for Pogba

Di laga versus Marseille kita malah mendapatkan sebuah kejadian kurang mengenakkan, yaitu cideranya Sami Khedira, kartu joker yang seharusnya jadi salah satu harapan kita musim ini. Menepi 2 bulan berarti kita akan kehilangan Khedira di 8 laga awal, belum lagi seorang pemain yang baru sembuh dari cidera membutuhkan waktu setidaknya 1-2 bulan untuk benar-benar fit. Om @dwicarta bahkan merasa Khedira mungkin tak akan benar-benar berguna di tahun ini. Asamoah yang disiapkan untuk kembali bermain ke tengah, juga masih dibekap cidera setelah musim lalu juga menepi hampir 1 musim. Praktis di gelandang bertahan Juve hanya menyisakan Sturaro sebagai pemain yang fit dan siap tampil.

chance for Sturaro
Sturaro bagi beberapa Juventini dipandang siap untuk muncul memikul peran Vidal sebagai gelandang angkut air, peforma apik musim lalu jadi pegangan Juventini. Apalagi goal cancellingnya di bibir gawang ketika melawan Real Madrid di musim lalu mengangkat namanya di kalangan Juventini. Tetapi perlu kita ingat, semua itu ditawarkannya ketika Sturaro didampingi pemain senior seperti Pirlo dan Vidal, mampukah ia menjalankan peran tersebut sebagai seorang "pemeran utama"? 8 laga awal musim ini adalah sebuah ujian yang ideal, sekaligus sebuah pertaruhan yang sangat berbahaya bagi Juventus.

Di sisi lain, cideranya Morata justru tidak begitu membuat khawatir. Tidak seperti Khedira, kita punya pelapis yang cukup baik secara kuantitas dan kualitas. Justru ini seperti blessing in disguise karena akhirnya kita bisa melihat pembuktian duo Mandzukic-Dybala.

Seluruh permasalahan ini akan semakin terlihat menyebalkan jika kita melihat pergerakan transfer klub-klub rival di Serie A. Peforma impresif Int*r Milan, Roma, dan AC Milan di bursa transfer membentuk poros kekuatan yang baru dan cukup mengancam Juventus. Beruntung klub Serie A lainnya juga mengalami hasil-hasil pramusim yang buruk, wajar karena praktis hampir semua klub mengalami perombakan besar, kecuali Lazio yang tergolong stabil karena tidak ada perubahan yang berarti. Bisa dibilang jika melihat kesiapan tim Serie A lainnya, Juventus masih merupakan unggulan, kendati seluruh klub start dari garis yang sama.

Missing link



Sebenarnya manajemen sudah sangat paham akan kekurangan yang harus dilengkapi di bursa transfer kali ini, terutama pada sebuah posisi yang sangat obvious, TREQUARTISTA. Hanya saja yang membuat saya cukup resah adalah pergerakan transfer Juve yang masih tetap saja seperti Juve di awal membangun, terlalu mengincar peluang dan bargain yang tepat. No disrespect to Marotta and co, they are already a legendary team with their eyes and negotiating skills. But seriously? setelah Juve mendapatkan uang dari pencapaian musim lalu (penjualan Vidal, Juve finish sebagai runner up UCL, dan melapangkan slot gaji) apa Juve juga akan tetap menawar Trequartista berkualitas dengan harga murah?

Terlihat Marotta di interview mengatakan "Juve tidak butuh trequartista, Juve punya Dybala untuk posisi itu". Allegri langsung menjawab tak sampai 1 hari "Dybala bukan trequartista, setidaknya Juve harus mendatangkan gelandang kreatif".Interview Marotta tentu saja adalah sebuah decoy agar Schalke dkk menurunkan harga pemainnya yang terlanjur tergoda oleh Juventus. Tapi Allegri (yang merasakan kesulitan tactical) langsung menganulir manuver Marotta, sebuah bukti bahwa sebenarnya Allegri merasakan keresahan yang harus segera diselesaikan. Ya, jika bukan seorang trequartista, setidaknya seorang gelandang kreatif untuk menahan bola lebih lama, seperti Witsel misalnya.

Saya pribadi merasa Juve setidaknya membutuhkan 3 pemain lagi: wingback kiri, trequartista/mezzala, dan gelandang bertahan.





Wingback Kiri: Siqueira sudah disebut sangat dekat dengan Juve, sebuah kabar yang baik untuk Mandzukic, supply crossing bisa meningkat, tapi semoga mereka tidak berebut penalti seperti di Atletico dulu :)


Juve masih tarik ulur dengan Schalke
Mulai tidak nyaman di Muenchen, namun terkendala Marotta-economic :D



Witsel, Kuat dan Berteknik bagus namun Zenit meminta 30jt euro

Trequartista/Mezzala: Draxler dan Gotze adalah 2 nama yang paling sering disebut untuk posisi trequartista, sementara Witsel adalah opsi lainnya yang juga sangat sering disebut, bahkan sang pemain dan agennya sudah beberapa kali menyebutkan nama Juve di media, they want Juve badly

Gelandang Bertahan: Mascherano beberapa kali disebut, perwakilan agency Mascherano juga menyatakan keinginan kliennya untuk bermain di Serie A, namun hal ini dengan cepat dibantah pihak Barcelona. Sebenarnya posisi gelandang bertahan tidak terlalu krusial karena Juve punya banyak opsi, tapi cideranya Khedira & Asamoah cukup untuk menjadikan posisi ini kembali "panas". Tergantung pada manajemen apakah berani bertaruh pada Sturaro?

Perkiraan formasi 2015/2016

#POGBA10

Masalah transfer dan cidera belum tuntas, tapi Juventus memberikan sebuah kabar yang cukup mengejutkan, yaitu Pogba musim ini akan menggunakan nomor sakral 10. Beruntung nomor 10 ini menurut press release Allegri merupakan permintaan langsung dari Poga sendiri, jika tidak kita bisa berfikir jangan-jangan ini modus manajemen saja agar Juve tidak perlu mencari trequartista ;)

Secara finansial keputusan ini akan menguntungkan, penjualan Jersey dijamin semakin meningkat. Nah yang menjadi pertanyaan adalah mampukah Pogba meneruskan kedigdayaan yang diwariskan oleh pemain seperti Boniperti, Platini, Baggio, Del Piero, dan Carlos Tevez? Yang jelas sepertinya Mino Raiola bakal sedikit kesal karena keputusan ini mau tak mau menbuat Pogba akan bertahan lebih lama. Semoga!


7 Agustus 2015
Febrila Arifpraja
@febrillanna

Kamis, 09 Juli 2015

Arrivederci Pirlo & Ad10s Tevez


Berbagai rumor tentang Pirlo dan Tevez sudah bergema sejak Januari 2015 lalu. Belum lagi Tevez sebenarnya sudah sejak di Manchester City telah berkali-kali menyatakan akan pulang kampung ke Boca, Juventus baginya adalah a really sweet contingency plan.
Separoh Juventini (termasuk saya) sudah mulai bersiap merelakan mereka berdua. Tapi pencapaian Juve di Liga Champion membuat saya berharap Tevez dan Pirlo akan berfikir ulang. Mereka seharusnya penasaran dan akan mencoba lagi merebut piala yang sudah sangat dekat di depan mata, begitu harap saya.

Carlos Tevez


Tevez hadir di Juventus membawa sebuah keberanian yang lama dinantikan oleh Juventini, Tevez langsung menggunakan nomor keramat 10 yang ditinggalkan Alessandro Del Piero, sedikitpun tidak terlihat takut atau bahkan terbebani.

Have no fear Tevez?
Selama berada di Juventus, Tevez berhasil memainkan peran krusial No.10 dengan sangat baik. Di bawah Antonio Conte, Tevez bermain lebih dekat dengan gawang, seolah sedang memainkan perang no.9 dan 10 secara bersamaan. Sementara di bawah Allegri, Tevez diberi kebebasan untuk berkreasi di mana pun ia merasa nyaman, maka kita melihat sosok Tevez yang sesungguhnya, murni no.10. Yang menarik adalah dibawah kedua pelatih, Tevez tetap menunjukkan determinasi dan grinta yang sangat tinggi. Tidak jarang kita melihat Tevez melakukan pressing, seolah memiliki 2 Arturo Vidal. (well, memiliki Vidal pun seolah memiliki 2 Tevez).

Diantara segala aksi yang krusial, yang paling berkesan adalah Tendangan Bebasnya, Gol melawan Dortmund, dan tentu saja, solo run melawan Parma.

Gol yang sangat langka di Serie A
Tevez stats with Juve:
2 Scudetti 

1 Coppa Italia
1 Super Coppa Italiana
50 goals, 16 assists

Kepergian Tevez ke Boca membuktikan kepribadian yang dimiliki Tevez sangat mengagumkan. Dengan kemampuan dan daya tarik yang masih sangat baik, Tevez setidaknya masih bisa bermain 2-3 tahun di level tertinggi. Atau Tevez masih punya banyak waktu untuk mengumpulkan pundi-pundi dari Arab atau Amerika. Tetapi Tevez memilih untuk kembali ke Boca, membuktikan rasa rindunya pada tanah air bukanlah isapan jempol belaka. AD10S TEVEZ!!



Andrea Pirlo



Walau banyak yang memuji langkah Juve di awal merekrut Pirlo, beberapa orang justru menyambutnya dengan pesimisme. Banyak yang beranggapan dia telah habis karena "latah" dengan pandangan A.C.Milan kepadanya. Saya sendiri sangat antusias karena saya sangat mengikuti permainan Pirlo di A.C.Milan. Ya, walaupun seorang Juventini, saya pada saat itu sangat sering menyaksikan klub lain di Serie A, terasa lebih nikmat daripada menonton liga lain, bagi saya pribadi.

Pirlo superpass to Marchisio
Kesan Pertama yang diberikan Pirlo kepada Juve adalah sebuah superpass kepada Marchisio, yang dituntaskan Marchisio dengan tidak kalah cantiknya. Dimulai saat itu, begitu banyak sekali passing serupa yang kita saksikan di sepanjang karir Pirlo di Juventus. Salah satu "pelanggan" Pirlo adalah Lichtsteiner, saking seringnya hingga diabadikan dalam sebuah video yang menurut saya cukup menggelitik.



Pirlo Stats with Juve:
4 Scudetto
1 Coppa Italia
2 Suppercoppa Italiana
164 Penampilan, 19 Goals
so many lovable passes

Kesedihan terhadap kepergian Pirlo bagi saya pribadi lebih dipengaruhi oleh faktor emosional dan harapan Pirlo akan membantu Buffon mengangkat Liga Champion, diiringi rasa terima kasih yang begitu besar karena menjadi bagian krusial dalam kebangkitan Juventus. Secara teknis dan pengaruh transfer ini di lapangan, kita sebenarnya tidak perlu terlalu khawatir.
Kita sudah memiliki Marchisio yang terbukti bermain sangat baik selama Pirlo menepi. Ketakutan akan absennya melawan Dortmund ternyata tidak terbukti. Bahkan Marchisio menghadirkan peran yang mengubah permainan Juve, Juve bermain lebih cepat, lebih bertenaga, dan bertahan lebih baik. Bahkan saya memiliki sebuah keyakinan, (tanpa mengurangi rasa hormat pada Pirlo) jika di final CL melawan Barcelona yang bermain adalah Marchisio-Vidal-Pogba, mungkin akan menghadirkan hasil yang berbeda. Selain itu Marotta sudah menghadirkan Khedira, opsi regista yang lebih defensif dan lebih berperan sebagai jangkar pertahanan.
Pirlo sendiri tampaknya sangat menyadari hal ini. Dia pasti sudah memiliki bayangan akan berbagi tempat dengan Marchisio di musim depan, dan bagi seorang Chuck... maksud saya Pirlo, tentu hal ini sangat sulit diterima.

Dari interview Marotta beberapa hari yang lalu, tampaknya klub sudah menyadari atau mungkin sudah diberikan tanda kepergian mereka. Itulah mengapa Marotta tidak membuang waktu menghadirkan Dybala dan Khedira, sebuah precaution, sambil berharap Pirlo dan Tevez akan mengubah fikiran mereka.

Masih saya temui beberapa Juventini yang menyalahkan Agnelli, Marotta, dan manajemen atas kepergian mereka berdua. Saya memandang ini adalah keputusan murni dari para pemain, dan Juve terkenal sangat demokratis terhadap pemain kuncinya dalam hal transfer. Like Beppe always said "jika pemain bahagia di Juve, mereka tidak akan pindah ke klub lain".

Arrivederci Pirlo! Ad10s Tevez!! GRAZIE!!

Dear Juventini, don't worry, Juve already purchased a great player: