Selasa, 27 Oktober 2015

JATI DIRI

Lumayan lama tidak menyentuh blog yang satu ini, padahal ada banyak hal yang menarik untuk didiskusikan dari Juventus di musim ini. Anak, tesis, kerjaan, sampai ke asap jadi beberapa alasan yang lumayan mengganggu ke-Juventini-an saya beberapa waktu belakangan, bahkan belakangan sudah tidak pernah nobar, malahan sering telat nonton Juve (Juve-Atalanta join di menit 40). Ya, jati diri saya sebagai Juventini sedang diuji :))

Berbicara tentang jati diri, kurang lebih itulah permasalahan utama Juventus di Musim ini. Ditinggalkan banyak pemain penting (yeah), pemain kunci dilanda cidera, Pogba yang dibebani no.10, hingga striker kita (yang sebenarnya cukup mentereng) yang seperti kehilangan magis di klub lamanya. Semuanya berkaitan dengan pencarian jati diri, entah itu jati diri sang pemain dalam perannya di permainan Juve, maupun jati diri permainan Juve itu sendiri.

Cukup lama coach Allegri bongkar pasang formasi dan susunan pemain hingga akhirnya ditemukan pakem yang pas. Untungnya proses pencarian Jati Diri tadi justru mengantarkan pemain Juve menjadi memiliki kekayaan strategi, yaitu kemampuan mereka mengubah formasi dari 3-5-2 menjadi 4-3-3 dalam satu pertandingan tanpa perlu pergantian pemain. Plus, Juve-Atalanta kemarin menunjukkan Juve juga mampu memainkan 4-3-1-2 kapanpun Juve membutuhkan.

Juve's Fluid Formation in Recent Games

Kembalinya Khedira dan Marchisio menjadi titik balik kebangkitan Juventus, lini tengah menjadi lebih stabil, konsisten, dan "mature". Pogba terlihat lebih composed ketika didampingi Khedira & Marchisio, walau terkadang masih terlihat beberapa trik yang tidak perlu. Khedira di satu sisi berhasil menampilkan sebuah permainan yang efektif dan penuh konsentrasi, secara personal saya melihat kita seperti memiliki "Barzagli di lini tengah". Ya, seperti Barzagli, Khedira jauh dari spotlight, bermain ringkas dengan umpan-umpan pendek, sederhana, namun sangat jarang melakukan kesalahan, dan hampir selalu memenangi duel-duel ketika dibutuhkan.

Berbicara tentang Barzagli, teman-teman di twitter pasti mengenal saya sebagai pengagum Barzagli (dan Vidal) di squad Juve era Conte-Allegri. Namun sungguh saya tidak pernah menyangka Barzagli mampu memainkan peran "siluman" sebagai bek kanan. Beberapa kali ia malah menunjukkan penetrasi layaknya seorang wingback muda, lalu umpan-umpan panjang seperti Pirlo untuk menemani pergerakan Cuadrado, Tentu saja kehadirannya dimaksudkan untuk memberi Cuadrado keleluasaan untuk membawa bola dan memimpin serangan tanpa perlu khawatir berbuat kesalahan. Barzagli selalu siap "cleaning his mess" atau bahkan membantu serangan. Watch out Lichtsteiner! :D

JUVE VS ATALANTA

Banyak rilisan media yang meramalkan Juve akan melakukan rotasi di pertandingan ini, walau tidak sesignifikan yang diramalkan media, Allegri terbukti melakukan beberapa perubahan. Diantaranya adalan memainkan formasi 4-1-2-1-2 dengan Pereyra sebagai trequarista. Namun setelah Pereyra cidera, Allegri memainkan Asamoah, sehingga bisa kita lihat Pogba bermain sebagai no 10 murni.

Juve vs Atalanta
Dalam beberapa pertandingan saya seringkali kesal pada sikap Pogba yang kadang terlalu demanding, melakukan beberapa trik, lalu rekan setimnya sendiri justru kebingungan. Setelah triknya gagal dimengertu (bahkan oleh saya penonton yang bisa melihat lapangan lebih luas), Pogba biasanya mengomel sendiri dan kadang terlihat mencak-mencak. Saya selalu berfikir WTH POGBA!! it is your own mess!!.

Dalam pertandingan Juve vs Atalanta Allegri akhirnya memberikan Dybala kesempatan untuk bermain sejak awal. Di sini saya menyadari ternyata kekesalan Pogba di game-game sebelumnya cukup beralasan, trik-trik dan passing-passing ajaib Pogba mampu dimengerti dan diolah oleh Dybala, seseorang yang punya level teknik yang sama dengannya. Imajinasi Pogba gagal dipahami oleh Mandzukic, Zaza, bahkan Morata, namun bisa dicerna dengan baik oleh Dybala, seolah mereka sudah bertandem selama 3 tahun.

videos from @ADP1113


Walau Juventus telah menemukan pola dan peran pemain yang tepat, tapi Juventus masih membutuhkan waktu untuk benar-benar melebur menjadi sebuah tim. Terutama pakem di lini depan yang masih membingungkan, atau bisa jadi Allegri memang sengaja menciptakan lini serang tanpa pakem yang pasti. Mungkin ketika kita melawan defender relatif lambat, kita bisa memaksimalkan pace dari Morata. Ketika ingin mengeksploitasi lawan dengan antisipasi udara yang jelek, kita memainkan Mandzukic. Atau opsi lebih agresif pada diri Simone Zaza, entahlah. Tetapi satu hal yang menurut saya harus dilakukan, kita harus memusatkan serangan pada Dybala-Pogba, biarkan mereka tumbuh sebagai pivot dari tim ini. Kompensasinya adalah inkonsistensi karena mereka masih sangat muda, tetapi itu adalah perjudian terbaik saat ini. Dalam proses tersebut kita juga masih bisa mengandalkan penetrasi Cuadrado, atau sprint-sprint serta placing shots dari Morata.

Jati diri baru dari Juventus pasca Tevez-Vidal-Pirlo perlahan mulai ditemukan. Juventus musim ini telah berganti menjadi tim yang bermain dengan kecepatan dan teknik yang sangat tinggi. Mulai mengeksploitasi sisi sayap yang lama terabaikan, serta kebebasan individual yang lebih sering ditonjolkan. Ini adalah sebuah formula yang sangat jarang digunakan Juventus, karena formula ini memang sering gagal di Serie A yang sangat taktis dan posisi bek lebih dalam dari liga lainnya. Sisi positifnya? lihat bagaimana performa Juve di Liga Champions, di sini seluruh tim bermain lebih terbuka, sehingga kelebihan Juve musim ini lebih mendapat ruang. Seperti yang sering saya bahas di twitter, kebanyakan Juara Liga Champions bermain menggunakan 4-3-3 dengan wingback agresif yang sering membantu serangan dan para winger yang melakukan penetrasi ke kotak penalti. Wait... Is this Juve were meant to build for...

FORZA JUVE!!!